Rabu, 10 Juni 2015

Pergiliran Kehidupan adalah Kenisbian Makna

Usia adalah rahasia yang awal dan akhirnya sudah terpatrikan sejak awal penciptaan. Maut, sama halnya dengan hidup, selamanya tetap akan menjadi rahasia Sang Empunya Jiwa. Kita hanya menjalani garis ketetapan yang sudah disepakati sejak awal penciptaan,  selanjutnya pergiliran demi pergiliran adalah siklus masa beralur raga, jiwa, dan roh. Perubahan wujud, selamanya akan menjadi ketetapan yang tak kan pernah terbantahkan.

"Kak....bantu belikan aku obat flu ya kak," Edi, sahabatku yang kini berada di ruang waktu berbeda berkata pada seorang kakak, lelaki yang sesungguhnya lebih pas dipanggil bapak karena usianya sudah menginjak setengah abad. Namun karena ada keterbatasan mental dan pikirannya, maka tak banyak yang mampu dilakukannya, selain masak air dan menyiapkan beberapa menu sederhana untuk makan. Itupun pasti ada yang terlupakan, kadang tak bergaram, kadang tak bercabe, bahkan kadang ikan goreng berubah menjadi ikan rebus karena digoreng dengan air panas, sebab minyak disangka air. 

"Beli apa bos," ujarnya sambil mengusap beberapa lembar jenggotnya yang mulai memutih,  tak lebih dari sembilan lembar perkiraanku.

"Beli de***gen kak", ucap Edi saat mengucapkan sebuah merk obat.

"Jadi bos, de***gen ya bos".

"Ya kak, belinya di warung depan saja. Terima kasih ya kak, kalau mau beli mie goreng dan uangnya masih ada, belilah kak," lanjut Edi. Ia tahu persis bahwa kakak sangat senang bila diberi mie goreng, makannya pasti lahap, bahkan ditukar dengan sepotong paha ayam atau rendang padangpun ia mau, apalagi dengan sambal petai balado.

Hanya beberapa langkah, belumlah lewat pagar rumah, ia kembali sambil menggaruk kepala.
"De***gen ya bos?," tanyanya ingin memastikan.

"Ya kak, de***gen, sekeping ya kak".

Iapun kembali melangkah, namun mulutnya terus komat kamit menyebutkan nama obat tadi. Sesekali garukan tangan ke kepalanya terlihat dari kejauhan,  berat sekali nampaknya beliau mengingat nama itu.

"Namanya tadi decolbel ya bos?," ujarnya beberapa menit kemudian.  Semula kami berpikir obat itu sudah di tangannya, karena mie goreng sudah dipegangnya dengan bangga.

"Bukan kak, de***gen".

"Oh....de***gen," kali ini jari-jarinya kembali bergerak cepat, keras sekali upayanya untuk mengingat.

Seratus meter berlalu, ada rasa tak tega pada kami, akhirnya diriku, Arif, dan Anton memutuskannya untuk menyusulnya.

"Mbak.....ada belcobel dak?".
"Apa kak", tanya pemilik warung, mbak Yanti kebingungan. Belum pernah sedikitpun didengarnya kata itu.

"Belcobel...."

Mendengar ucapan itu, tertawalah Arif, Anton, dan diriku.
"Bukan belcobel kak, tapi de***gen," ucap Anton meluruskan. 

******
"Ahhh.....seandainya kakak masih ada, gelak tawa dan bahagia itu kini makin menjadi. Kami rindu suasana belasan tahun lalu,  kepolosan tiada berbanding. Meski dirimu orang yang terlahir tak biasa, selalu ada banyak kenangan kehidupan yang luar biasa di saat kami semua menjejak mimpi dan cita-cita".

"Sudahlah,  semua sudah berlalu, kenangan itu tetap ada disini, di hati ini. Bukankah banyak orang yang dulu ada, kini sudah tidak ada, hanya tinggal memori abadi," ucapku dalam hati seolah ingin menghibur diri.

Pelan, namun pasti. Beberapa posting sahabat di beberapa media sosial mengingatkanku.

"Bapak,  selamat jalan. Tak usah kau khawatirkan lagi kami. Kini kami sudah besar, " begitulah salah satu posting seorang kerabat saat baru saja bapak yang dicintainya meninggal dunia.

"Bapak, sudah setahun dirimu tak hadir lagi dalam nyataku, hanya mimpilah yang kunanti dengan kehadiranmu," begitu tulisan sahabat lainnya. 

"Bapak, seandainya kau masih ada, kesuksesan kami harusnya kau saksikan karena inilah hasil perjuangan berkeringatmu mendorong gerobak minyak beribu kilometer selama belasan tahun ini," tulis sahabat lainnya saat banyak kerinduannya bergayut atas banyak cerita sukses yang kini ia raih.

***

Kawan, terlalu banyak kerinduan kita pada orang tua, ibu, juga bapak, dan mereka yang pernah hadir dalam kehidupan nyata. Namun satu hal yang kuingat nyata, beberapa jam sebelum almarhum bapakku bertarung sakratul maut di ICU, serangkaian kalimat kuucapkan :

"Bapak, berangkatlah bapak dengan tenang dan kebanggaan.  Bila bapak ingin kembali ke kampung, pegang ucapan anakmu ini, bapak akan pulang ke kampung. Kalau bapak khawatir tentang ibu, pegang ucapan anakmu ini bahwa ibu adalah hidupku".

Beberapa bulir airmata menetes pelan meleleh di pipinya. Hanya dua kali kusaksikan airmata itu, pertama saat ia bercerita setahun yang lalu tentang bapaknya yang meninggal saat sekolah dasar belumlah dituntaskannya, dan yang kedua hari ini. Beberapa jam kemudian, malaikat maut menjemputnya. Beliau istirahat dengan tenang dan penuh kebanggaan,  kami menyaksikan,  tak perlu ada kesangsian.

"Bapak, kakak, adik, juga anakku.... kita semua berawal dari tidak ada, kemudian ada, dan akhirnya tiada. Namun itu hanya di dunia, di sepemandang mata saja, namun bukan di dalam hati dan rasa kami.

Terima kasih atas kebahagiaan dan kebanggaan yang telah kalian berikan selama ini. Sepanjang hidup kami,  kalian semua sesungguhnya kini selalu ada, di hatiku, di hati kami, dan di hati semua orang.

Semoga Bapak,  kakak, adik, dan anakku bahagia disana. Suatu saat kita akan bersama, mungkin hari ini, mungkin esok, lusa, atau kapan saja.

Kami juga awalnya tiada,  lalu ada, kemudian tiada di dunia. Namun kami juga akhirnya akan tetap ada di hati mereka semua....

Karena pergiliran hidup adalah kenisbian makna sepanjang cerita.

Selasa, 09 Juni 2015

Airmata Berdetak Sempurna

Diam, hening, akhirnya tetes airmata itupun jatuh berderai. Bulir demi bulir, laksana tetes semangat yang kian terburai. Masalah demi masalah, alur demi alur, dan nalar demi nalar kian terhempaskan meski awal semangat bergelora rasa tiada berbatas.

"Aku tak kuat lagi mas," ucapan Cheiza memecah keheningan sore di jelang senja. Bulir demi bulir itu kembali menetes membasahi pipinya yang putih,  lesung pipinya kini tak lagi nyata, senyum itu kini hanya impian di jelang mimpi mengayun sempurna.

"Aku ingin dirimu kuat Cheiza, kalau kau menyerah,  bagaimana kita menjalani kehidupan setelah ini?," dalam tarikan nafas Affan kala mengucapkannya. Ada berton-ton beban yang dirasakannya kini. 

"Maafkan aku mas, kali ini aku menyerah. Izinkan aku menyerah mas...," bulir itu kembali jatuh perlahan.  Mata itu kini mulai basah kembali, mata yang dulu hingga kini selalu menjadi mimpi yang menemani Affan sepanjang malam. 

"Mengapa Cheiza.....mengapa kau menyerah? Adakah bebanmu sudah sangat berat hingga kau lupakan mimpi-mimpi kita?," lirih Affan mengucapkannya. Kini cipratan ombak laut tak lagi menggembirakannya. Beberapa camar laut yang mengepak sempurna menembus langit senja itupun kini tak lagi melepaskan gundahnya.

Beberapa saat ditatapnya wajah Cheiza. Keteduhan mata itu tetap ada, namun redupnya sudah mulai menapak nyata.

"Ahhhh....andaikan dirimu sudah menjadi muhrim, kan kuteguhkan pundakku untuk menjadi sandaran kokoh dirimu. Kau kurangkul pundakmu, kan kuminta kau mendengar detak jantungku,  dan akan kau fahami bahwa kesedihanku melebihi kesedihanmu. Seandainya saja......," gumam Affan dalam hati.

"Mas, izinkan aku bersandar di bahumu. Maafkan, aku tak kini tak kuat lagi....."

Kali ini tak mampu Affan menolaknya.  Sudah dua tahun mereka bersahabat, kemudian merasa dekat, dan akhirnya cinta bermaklumat. Baru sekali inilah dirasakannya detak jantung sangat luar biasa, dadanya bergemuruh, dan tubuhnya gemetar menyambut wanginya rambut Cheiza yang bersandar di bahunya. Sulit baginya untuk mengendalikan rasa, ia kini benar-benar meyakini kekuatan rasa cinta, meski tak dapat dipungkirinya ada getar aneh kala tangan Cheiza menyentuh kulitnya. Tangan yang demikian halus,  lembut, dan lentik sempurna. Tangan yang di sebagian jarinya berhias ceria, lambangkan sang empunya jiwa bukanlah wanita berlambang duka. Cheiza adalah kegembiraan yang nyata, kebahagiaan tiada berbatas, dan keindahan sepanjang rasa. 

Sepuluh menit, mungkin lebih, mereka diam dalam kebisuan. Pikiran bergores nyata, imajinasi meruang makna, dan hati menyala rasa. Alur dan rasa mengalun sempurna, kebersamaan itu kini kian nyata, laksana mengiringi taburan senja yang kian merah menyala.

Sepuluh menit pula Affan berada dalam ruang masa berbeda. Ingin dikatakannya pada Cheiza bila mereka yang kuat itu adalah mereka yang mampu membentuk lingkungan, bukan dibentuk lingkungan.  Ingin pula dikatakannya bahwa mereka yang sukses itu adalah mereka yang mampu mengelola logika,  bukan diolah logika. Namun lidahnya kian kelu, keharuman tubuh Cheiza kian membuat detak jantungnya berdegup sempurna, hingga kesadaran itu akhirnya datang jua.

"Cheiza....kita memang baru bersama, tapi kau adalah kekuatan rasa dan jiwaku. Aku ingin kau tetap kuat, agar aku juga bisa kuat. Kau adalah batinku, dan aku adalah batinmu. selamanya.....".

Senin, 08 Juni 2015

Sang Penafsir

Gambaran pikiran adalah gambaran rasa, gambaran rasa adalah gambaran jiwa, dan gambaran jiwa adalah gambaran makna. Mereka yang mencari makna, maka merekalah yang mendapat kemanfaatan atas banyak jejak diri yang dimaknai.

Siang ini, peluh menetes deras pada seluruh tubuh Affan. Duabelas kilometer telah dilaluinya dengan penuh suka cita. Hari pertama berseragam putih biru, bergaya penuh laksana bujang tiada berpilu. Sudah ia lupakan ujung celananya yang tak dijahit sempurna,  sudah ia lupakan kantong belakang yang belum berlobang kancing sedikitpun,  dan telah ia lupakan ikat pinggangnya yang bagian ujungnya telah dibakar dengan ujung lilin karena serabut kainnya yang bersimbur temali berbongkah masa, berantakan tak bermozaik sama.

Siang ini hanya ada semangat,  sama seperti enam tahun yang lalu, meski kala itu ia pergi ke sekolah diantar sepeda berkeranjang pempang, ia di sisi kanan keranjang, dan setumpuk daun simpor dan pisang di sisi kirinya. Keranjang pempang nan indah permai, tempat layaknya mahligai kerinduan beralaskan kain katun pemberian Perusahaan Timah. Pasar dan jembatan Gantong, Rumah Dua, Gunung Selumar, Tanjakan Selinsing, Tebat Gadong, Electrice Centrale, dan Mesjid Lalang Manggar, tempat yang membangkitkan kerinduannya saat ini. Tempat yang suatu masa tak pernah ia bayangkan hanya ada dalam cerita, tempat yang menjadi jejak nyata bila manusia telah tak berdaya, maka kerakusan hanyalah cerita bagi mereka yang tak belajar bijaksana memaknai pertanda alam yang mulai murka.

"Ahhh.....lupakanlah cerita itu, waktu sudah berlalu, kemaren hanya kenangan, hari ini kenyataan, dan esok adalah harapan bagi beribu jiwa yang menandai," gumamnya saat menyandarkan sepeda pada sebatang pohon mahoni persis di pojok sekolah. 

Ada rasa bergetar dalam dirasakannya saat menjejak halaman dalam sekolah itu. Sesungguhnya tak ada yang terlalu berbeda keadaan sekolah barunya dibandingkan sekolahnya di kampung,  sama-sama ada bangunan berdinding papan bercat kapur putih dalam kaleng persegi panjang pada beberapa bagian dindingnya.  Tiang benderanya juga sama, ada di tengah halaman. Juga ada sederet taman berjejer teratur di muka kelas, salah satunya tumbuh subur Caesalphinia pulcherrima, kembang merak yang selalu menjadi inspirasinya.  Jelas bukan kembang merak yang nyata, karena baginya kembang merak itu adalah Cheiza Alfinia,  wanita berjuta rasa.

"Bapak hanya tamat Sekolah Rakyat,  akan selalu menjadi kebanggaan bila kau dapat menyelesaikan SMP ini Affan," begitulah ucapan yang terngiang saat ia mulai melihat papan pengumuman pembagian kelas.

"Suatu saat, bila Ilmu Bumi telah kau pelajari mendalam, kau akan makin faham lebarnya dunia ini. Indonesia itu hanyalah seperti dari Vladyvostoc hingga Pegunungan Ural di Rusia, atau dari California hingga San Francisco di Amerika. 

Cobalah nanti kau lihat di atlas, betapa Pulau Belitong sangat kecil. Panjangnya saja kurang dari seratus limapuluh kilometer, tak lebih dari tiga jam untuk dapat dijalani dengan bersepeda motor, dan tak lebih sehari sudah kau tembus bila mengayuhkan sepeda. Bahkan berjalan kakipun, tak lebih dari tiga hari telah dapat kau tuntaskan.  Tapi tahukah kau, meski kecil pulau kita ini adalah benteng alam yang sungguh luar biasa. Belitong adalah benteng pertahanan negara, titik merah saat konfrontasi dengan Malaysia dulu. Siapa yang menguasai Belitong,  maka ia akan menguasai tanah di sekelilingnya.  

Itulah sebabnya Presiden kala itu menjadikan Belitong menjadi salah satu titik tolak pergerakan pasukan. Pergerakan pasukan berarti pergerakan bangsa, pergerakan bangsa berarti pergerakan kedaulatan, dan pergerakan kedaulatan berarti pergerakan kemandirian untuk hidup dengan cara yang benar, layak, dan bermartabat.

Suatu saat kau tak akan sepertiku, hanya tamat Sekolah Rakyat. Berbagilah dalam kebahagiaan,  karena dengan bahagia mereka akan menikmati kebanggaan sebagai manusia. Berbagilah dalam semangat, karena semangatlah yang menjadi api antusias menjalani kehidupan. Juga Berbagilah dalam keikhlasan, karena mereka yang ikhlas jelas mereka yang tak pernah menakar, menawar, dan menukar hidup dengan ketidakmoralan".

"Ahhhh.....andai saja Bapak hari ini menyaksikan diriku berseragam putih biru, akan kuceritakan banyak rasa siang ini," ucap Affan.

Sayang, Tuhan telah berencana lain atas hidupnya. Seminggu setelah ia berucap wejangan itu, Tuhan memanggilnya dengan meninggalkan kesedihan tiada bermuara. Kabel listrik bermuatan listrik tinggi,  telah mengakhiri semuanya,  namun tidak harapan Affan,  juga abangnya Salim, dan keempat adiknya : Wenny Ramdiastuti, Yenni Pangastuti, dan si kembar Sinta Mahareza dan Santi Mahzareka. 

Bagi Affan, Bapak bukan hanya El-Kalami, lelaki yang menuliskan, namun juga Penafsir Kelas Satu. Ia kini sedang menjejak diri di sekolah ini untuk mewujudkan impian Sang Penafsir berbingkai mimpi.

***

*keranjang pempang : keranjang bercabang berbahan rotan yang biasanya dipasang di jok belakang sepeda atau sepeda motor.
*Simpor : Dillenia suffruticosa, sejenis tanaman perdu berdaun lebar. Daunnya sering dipakai untuk pembungkus makanan.

Minggu, 07 Juni 2015

Bapak - Semangat Kehidupan Sepanjang Perjalanan

Ayah, Bapak sebutanku. Mungkin abah, papi, papa, atau panggilan lainnya bagi banyak mereka lain. Selalu dan selalu tak kan pernah habis tinta jiwa untuk menuliskan banyak cintanya nan tiada batas. Tidak hanya dulu, kini, dan hingga nanti. Tidak hanya hari-hari yang telah lalu, namun juga hari ini, juga di ribuan hari setelah kini.  Tidak hanya saat ia masih bersama kita, hidup dan bercengkrama bersama, namun juga kala ia hanya menjadi kenangan sepanjang masa. 

Diriku, dirimu, kita, mereka, dan juga semuanya sepakat tak kan habis menuliskan rangkaian kata untuk mewakilinya.  Apapun yang kita tulis, tak ada sepersepuluh, apalagi separuh apa yang menjadi milik dan semangatnya.  Namun asa kerinduan yang nyata, hingga ingin kutuliskan sebagian yang kita rasa atas dirinya,  karena Bapak adalah sang pemilik cinta yang tak kan pernah terlupakan.

Sering kita dengar banyak ujaran, juga wejangan dari Bapak. Bahkan saking seringnya, hingga kadang tak kita maknai dengan pikiran dan hati terbuka. Kadang pula kita tanpa sadar mengatakan bahwa banyak ceritanya adalah bohong belaka. Namun satu hal yang kufahami saat membaca salah satu novel tentang Ayah, tak perlu kita pertanyakan atau perdebatkan tentang kebenaran ceritanya. Bukankah esensi sesungguhnya adalah untuk kebaikan kita, anak-anaknya. 

"Hakikat kebahagiaan sejati berasal dari hati kau sendiri. Bagaimana kau membersihkan dan melapangkan hati, bertahun-tahun berlatih, bertahun-tahun belajar membuat hati lapang,  lebih dalam,  dan lebih bersih.  Kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati dari kebahagiaan yang datang dari luar hati kita. Hadiah mendadak, kabar baik, keberuntungan, harta benda yang datang,  pangkat, jabatan, semua itu tidak hakiki. Itu datang dari luar. Saat semua itu hilang, dengan cepat hilang pula kebahagiaan.  Sebaliknya rasa sedih, kehilangan,  kabar buruk, nasib buruk, itu semua juga datang dari luar. Saat semua itu datang dan hati kau dangkal,  hati kau seketika keruh berkepanjangan. 

Berbeda halnya jika kau punya mata air sendiri di dalam hati.  Mata air itu menjadi sumber kebahagiaan tidak terkira. Bahkan ketika musuh kau mendapatkan kesenangan, keberuntungan,  kau bisa ikut senang atas kabar baiknya,  ikut berbahagia,  karena hati kau lapang dan dalam.  Sementara orang-orang yang hatinya dangkal,  sempit, tidak terlatih,  bahkan ketika sahabat baiknya mendapatkan nasib baik,  dia dengan segera iri hati dan gelisah. Padahal apa susahnya ikut senang.

Itulah hakikat sejati kebahagiaan. Ketika kau bisa membuat hati bagai danau dalam dengan sumber mata air sebening air mata. Memperolehnya tidak mudah, kau harus terbiasa dengan kehidupan bersahaja,  sederhana,  dan apa adanya. Kau harus bekerja keras, sungguh-sungguh,  dan atas pilihan sendiri memaksa hati kau berlatih, " begitulah kutipan dari novel itu.

Lantas apalagi?
Tadi siang sebuah buku baru dari sang penulis Laskar Pelangi kudapatkan : Ayah.  Memang belum dibaca, karena kuputuskan baru akan membacanya setelah selesai menuliskan hal ini. Satu hal yang kuyakini, Andrea Hirata juga seperti diriku, dirimu,  kita, dan mereka semua : sangat menyintai dan mengagumi Bapak, ayah-papa-papi atau panggilan apapun bagi mereka yang lain. 

Andrea Hirata,  banyak yang kuduga tentang rasanya pada Ayah, begitu juga kami. Diriku juga lahir di tanah yang sama, Negeri Belitong.  Ayah kita juga pekerja di level terendah di Perusahaan Timah,  namun kemuliaan luar biasa selalu mereka tunjukkan. Kebanggaannya, juga kebanggaan kita. Pelukan mimpinya, juga pelukan kita, karena kita adalah dirinya, dan dirinya adalah kita, lelaki Belitong. Tuhan telah mewujudkan mimpinya,  dan kini ia telah dipeluk bumi dengan kebanggaan dan kebahagiaan.  Bagimu, Ayah telah diwakili dengan banyak jejak diri, sebagian jejaknya berujar nyata di banyak ceritamu. Bagiku, Bapak adalah El-Kalami, lelaki yang menuliskan.  Diriku adalah salah satu tulisannya,  alfa dan tetha telah membangkitnya, alam bawah sadar yang tersimpan nyata di sepanjang perjalanan makna.

Akan halnya Affan Nur Aditya, lelaki Belitong yang yatim sejak usia tigabelas tahun,  putus sekolah di saat itu, menjadi kuli penyekop pasir kwarsa demi tumpaskan keringat di sepanjang teriknya hari, tetap akan bergalur semangat dalam cerita yang sedang dituliskan.  Baginya,  Bapak adalah semangat tiada berhenti, lilin-obor-api yang tak pernah padam, meski hanya tigabelas tahun pernah mendampinginya.  Diriku akan menuliskannya dalam cerita beruang rasa.

Sabtu, 06 Juni 2015

Pena Rasa Beruang Jiwa

Skenario kehidupan adalah rahasia perjalanan di separuh waktu terhamparkan. Kala tubuh terhempas hingga membuang diri ke negeri antah berantah, jejak rasa harapkan punah di seluruh masa. Kala jiwa terhampar dalam belenggu kalah bertameng masa, tampakkan wajah hanyalah kelam di jelang malam. Begitulah yang dirasakan Mukhlis ribuan hari yang lalu. Sejak tanah berpasir kwarsa diikhlaskannya, saat bertumpuk pohon lada dihibahkannya, dan saat derik sepeda tua hanya akan menjadi nyanyian rindu di saat usia senja, saat itulah telah diserahkan nasibnya dan kedua orang tuanya yang kian merenta. 

Tak pantas bagi banyak orang, namun membawa rasalah yang harus ia tetapkan. Indah Purnamasari,  ia tetaplah kenangan di awal perjalanan, semangat di kala pasir kwarsa memenuhi banyak ruang masa. Kilapnya bersinar, meski hanya sesaat saja. Tak pernah ia harapkan di separuh perjalanan di negeri seberang akan ditemuinya kesamaan wajah meski tak persis serupa. Namun wanita bertudung biru tadi sungguh tak mampu ia tamparkan di balik selimut jiwa berkalung cinta.  Rona itu kian nyata, memori itu tak ia kuasa, dan kerinduan itu kian meruang jiwa. 

Sudah lebih dari tiga tahun ia melupakannya,  meski berkas itu tak kan pernah kuasa dihapuskannya. Alam bawah sadar, gelombang alfa dan tetha telah menggoreskannya sangat dalam, hingga selembar kelopak matapun akan mengutuhkan semua memori yang telah tersimpan.

Pelan, pasti, dan berbalut hati....
Pena itu kini menari sempurna. Tak ia rasa sudah lebih tiga tahun tak dituliskannya apa yang ia rasakan dalam berlembar kertas merah muda nan wangi memenuhi jiwa. Kertas itu, kini tak wangi lagi, warnanya juga sudah menguning hampir di seluruh tepi, dan tinta penapun sudah tak berisi sama sekali. Namun memorinya kembali harus berisi, penanya harus segera menari, dan ilusinya kian memenuhi semua sudut imajinasi yang kian tak terkendali. 

Dulu, saat rasa itu kian membuncah, kertas dan pena inilah yang menjadi obat dari jiwanya yang luka. Menulis baginya adalah terapi atas banyak rasa yang tak terhamburkan, cintanya yang tak mampu diungkapkan, dan tetesan airmatanya yang tak akan dihamburkan. 

Kini, pena itu kembali menari, isinya telah penuh kembali, meski kertasnya tak lagi wangi.

"Hari ini, tak dapat kukatakan apa yang kurasa. Wajah itu kembali muncul dan bergelayut utuh di mataku. Aku tahu wanita itu bukan dirimu Indah,  karena tak mungkin akan kau seberangi pula Selat Malaka hanya untuk mencari jejak diriku. Dulu sewaktu masih di kampung, memang pernah kupikirkan dirimu akan menyusulku, atau mungkin mendekatiku saat selembar kertas berbalut rasa kutitipkan pada Cheiza. Namun ternyata,  dugaanku hampa. Kau tak mendatangiku, meskipun hanya sekedar mengucapkan sumpah serapah bila tak berkenan dengan suratku.

Akhirnya, kuputuskan suatu saat diriku harus menjauh darimu, bukan karena kecewaku atas penolakan darimu, namun lebih karena mungkin kau tak kan bahagia bersamaku. Affan,  mungkin dialah lelaki idamanmu, meski kutahu ia telah menaruh hati pada Cheiza sahabatmu.

Kini setelah tiga tahun berlalu, kuharap tak kan ada rindu lagi padamu. Wajahmu telah berusaha kulupakan, tawamu juga, apalagi kernyit keningmu kala senyum tertahan olehmu. Sulit kulupakan makna kernyitanmu, namun tak dapat kulupakan pandangan matamu saat itu. Kuyakin ada cinta di dalamnya,  namun tak kuasa untuk kuteduhkan dalam rasamu. 

Cukup lama diriku berusaha melupakanmu, tiga tahun. Semula diriku yakin telah mampu, hingga sore ini telah menghancurkan keyakinanku.Wanita itu, telah mengembalikan semua rasaku. Engkau telah menjelma kembali pada wanita itu, tatapan matanya sangat kuyakini itu. Keteduhannya telah membuatku menitikkan airmata saat menuliskannya saat ini.

Indah, maafkan diriku bila telah menyamakanmu dengan wanita itu. Kutahu dirimu tak mau disamakan,  wanita tadi juga tak mau disamakan. Namun kemiripanmu telah menghancurkan kekokohanku. Diriku ternyata masih tetap lemah mengalahkan rasa cinta ini. Maafkan.....

Indah, kini izinkan diriku memenuhi ruang masa ini dalam bertumpuk kertas penuh tulisan tentang rasaku. Tumpukan kertas yang tak akan pernah kau baca, nikmati, apalagi menyimpannya dalam lubuk hatimu.Indah,  izinkan diriku mendekati wanita itu dalam mimpiku. Izinkan diriku mengukuhkan rasa dengan menikmati kehadirannya. Izinkan pula diriku memenuhi ruang jiwa ino dengan berimajinasi padanya.  

Kuharap dirimu disana tetap menikmati indahnya pantai berpasir kwarsa. Tiupan angin laut di jelang sore yang kian teduh, deburan ombak kecil menikmati langkah kakimu, dan temaram senja sore yang bersiluet merah dan kuning mengiringi perahu nelayan yang bertambat di pinggiran. 

Kuharap dirimu mengizinkanku menikmati ruang masa yang tersisa dengan memenuhi tumpukan kertas ini dengan banyak pergolakan rasa. Terima kasih, semoga kau menikmati kebahagiaan di ujung pulau berpasir kwarsa....."