Bang.....
Beberapa hari terakhir ini kubaca ada banyak perkembangan dari buku Syair Keranjang Pempang yang telah dipublikasikan di nulisbuku. Sangat tak terkirakan senangnya rasa hati mendengar perkembangan terakhir bahwa buku ini mulai banyak diminati banyak orang. Meski dari update terakhir yang kudengar, lebih banyak yang membelinya "bukan urang Belitong" karena ternyata "urang Belitong" masih kurang dari duapuluh lima persen yang memesan dan memiliki buku ini setelah tiga minggu launching di nulisbuku.
Kudengar juga dari keluh kesahmu kemaren pagi, begitu sulitnya menggugah "urang Belitong", hingga kemudian muncul beberapa hipotesa mengapa mereka belum memilikinya : sistem penjualan online, harga yang tinggi, isi yang tak menarik, malas membacanya karena hanya tuturan biasa, hingga perkiraan-perkiraan lainnya.
Salah satu yang sangat mengganggumu adalah perkiraan harga yang terlalu tinggi. Hingga kemudian dirimu (sempat) merencanakan untuk dicetak di tempat lain atau menerima tawaran publish melalui penerbit umum, sehingga kemudian akan ada dan dijual di toko buku umum dengan harga sedikit lebih murah namun dengan kualitas kertas dan pencetakan yang sudah berbeda.
Namun kegundahan kutangkap dengan jelas, itu bukanlah solusi yang menurutmu tepat. Buku Syair Keranjang Pempang sesungguhnya mirip dengan buku-buku asal Belitong sebelumnya, lebih banyak dimiliki orang Belitong di perantauan dibandingkan dengan orang Belitong yang menetap di Belitong. Bahkan Tetralogi Laskar Pelangi yang sudah menduniapun, masih banyak orang Belitong yang tak memilikinya, apalagi yang menetap di Belitong.
Jadi apa yang dirimu pikirkan bahwa dengan harga yang lebih murah maka kemudian akan lebih banyak orang Belitong memilikinya, menurutku itu tidak akan samasekali. Harga Syair Keranjang Pempang tak lebih mahal dari sekilo timah, bahkan nyaris hanya sepersekian rupiah bila dibandingkan banyaknya uang yang dihamburkan segelintir orang di kampong di malam hari. Bahkan bila mereka ingin memilikinya, cukup hanya mengurangi nongkrong di warung kopi paling lama seminggu, maka buku ini pasti akan mereka miliki. Bila itupun tak mampu mereka lakukan, cukup dengan mengurangi membeli ikan di keranjang pempang yang berkeliling kampong, jangan membeli sekilo tapi cukup setengah kilo.
Diriku juga tahu, bahwa hingga selama tiga minggu jumlah buku yang telah dipesan baik langsung ke nulisbuku atau melalui dirimu sudah lebih dari 83 buah buku. Menurutku ini sebuah prestasi yang sangat luar biasa. Jumlah kunjungan ke blognya selama sebulan saja sudah lebih dari 1300 kunjungan, itu juga sangat luar biasa! Kemudian jumlah postingan di blog ini selama sebulan sudah mencapai lebih dari 30 buah, itu juga lebih luar biasa karena tiada hari tanpa kreatifitas. Kesibukan yang sesungguhnya tak dapat kubayangkan karena disela-sela mengelola Syair Keranjang Pempang, dirimu juga tetap dan terus melanjutkan penulisan buku-buku selanjutnya, utamanya "Syair Negeri Bumi" yang mungkin menjelang awal tahun ini sudah dilaunching pula.
Aku hanya ingin katakan bahwa pada bulan Mei tahun Duaribu Sepuluh lalu, kita pernah bertemu dan berbicara banyak hal. Salah satu yang kuingat adalah dirimu mengatakan,"Syair Keranjang Pempang kutulis demi baktiku pada tanah kelahiran. Ia akan menjadi salah satu bukti bahwa kecintaanku pada tanah kelahiran tak akan pernah pupus meski diriku sudah puluhan tahun hidup di tanah rantauan. Mengangkat Syair Keranjang Pempang berarti mengangkat tanah kelahiran, berbuat untuk tanah kelahiran, berjuang untuk tanah kelahiran, dan menggaungkan banyak kearifan di tanah kelahiran. Bila nanti buku ini telah selesai ditulis dan diterbitkan menjadi sebuah buku kehidupan, biarlah buku ini memenuhi takdirnya".
Untuk itulah kutulis surat ini. Ingin kukatakan bahwa saat ini Syair Keranjang Pempang telah berkeliling kampung demi kampung. Laksana seorang penjaja keliling kampung yang menjual jajanannya di dalam sebuah keranjang pempang, kini keranjang yang telah berisi banyak kearifan lokal itu telah berjalan menyusuri hidupnya. Mungkin di dalam perjalanan ada orang yang berminat, mungkin saja hanya bertanya tentang apa isinya, mungkin juga malah menawarkan jajanan lain, mungkin hanya ikut berteriak menawarkan pada orang lain namun ia sendiri tak memilikinya, mungkin mengajak barter, mungkin ada yang menitipkan jajanan lain di keranjang pempangmu, bahkan mungkin juga jajanannya tak pernah laku hingga membusuk dan menjadi makanan cacing-cacing tanah. Tak usah abang pikirkan hal itu karena semuanya sudah rencana Tuhan.
Biarlah Syair Keranjang Pempang berjalan menurut apa yang sudah ditapakinya selama ini. Ia telah menemukan wujudnya, ia telah menemukan takdirnya, saatnya ia memenuhi takdirnya.
Semangat terus untuk Syair Keranjang Pempang, aku bangga memilikinya!
Salam,
RTO
Tidak ada komentar:
Posting Komentar