Sabtu, 06 Juni 2015

Pena Rasa Beruang Jiwa

Skenario kehidupan adalah rahasia perjalanan di separuh waktu terhamparkan. Kala tubuh terhempas hingga membuang diri ke negeri antah berantah, jejak rasa harapkan punah di seluruh masa. Kala jiwa terhampar dalam belenggu kalah bertameng masa, tampakkan wajah hanyalah kelam di jelang malam. Begitulah yang dirasakan Mukhlis ribuan hari yang lalu. Sejak tanah berpasir kwarsa diikhlaskannya, saat bertumpuk pohon lada dihibahkannya, dan saat derik sepeda tua hanya akan menjadi nyanyian rindu di saat usia senja, saat itulah telah diserahkan nasibnya dan kedua orang tuanya yang kian merenta. 

Tak pantas bagi banyak orang, namun membawa rasalah yang harus ia tetapkan. Indah Purnamasari,  ia tetaplah kenangan di awal perjalanan, semangat di kala pasir kwarsa memenuhi banyak ruang masa. Kilapnya bersinar, meski hanya sesaat saja. Tak pernah ia harapkan di separuh perjalanan di negeri seberang akan ditemuinya kesamaan wajah meski tak persis serupa. Namun wanita bertudung biru tadi sungguh tak mampu ia tamparkan di balik selimut jiwa berkalung cinta.  Rona itu kian nyata, memori itu tak ia kuasa, dan kerinduan itu kian meruang jiwa. 

Sudah lebih dari tiga tahun ia melupakannya,  meski berkas itu tak kan pernah kuasa dihapuskannya. Alam bawah sadar, gelombang alfa dan tetha telah menggoreskannya sangat dalam, hingga selembar kelopak matapun akan mengutuhkan semua memori yang telah tersimpan.

Pelan, pasti, dan berbalut hati....
Pena itu kini menari sempurna. Tak ia rasa sudah lebih tiga tahun tak dituliskannya apa yang ia rasakan dalam berlembar kertas merah muda nan wangi memenuhi jiwa. Kertas itu, kini tak wangi lagi, warnanya juga sudah menguning hampir di seluruh tepi, dan tinta penapun sudah tak berisi sama sekali. Namun memorinya kembali harus berisi, penanya harus segera menari, dan ilusinya kian memenuhi semua sudut imajinasi yang kian tak terkendali. 

Dulu, saat rasa itu kian membuncah, kertas dan pena inilah yang menjadi obat dari jiwanya yang luka. Menulis baginya adalah terapi atas banyak rasa yang tak terhamburkan, cintanya yang tak mampu diungkapkan, dan tetesan airmatanya yang tak akan dihamburkan. 

Kini, pena itu kembali menari, isinya telah penuh kembali, meski kertasnya tak lagi wangi.

"Hari ini, tak dapat kukatakan apa yang kurasa. Wajah itu kembali muncul dan bergelayut utuh di mataku. Aku tahu wanita itu bukan dirimu Indah,  karena tak mungkin akan kau seberangi pula Selat Malaka hanya untuk mencari jejak diriku. Dulu sewaktu masih di kampung, memang pernah kupikirkan dirimu akan menyusulku, atau mungkin mendekatiku saat selembar kertas berbalut rasa kutitipkan pada Cheiza. Namun ternyata,  dugaanku hampa. Kau tak mendatangiku, meskipun hanya sekedar mengucapkan sumpah serapah bila tak berkenan dengan suratku.

Akhirnya, kuputuskan suatu saat diriku harus menjauh darimu, bukan karena kecewaku atas penolakan darimu, namun lebih karena mungkin kau tak kan bahagia bersamaku. Affan,  mungkin dialah lelaki idamanmu, meski kutahu ia telah menaruh hati pada Cheiza sahabatmu.

Kini setelah tiga tahun berlalu, kuharap tak kan ada rindu lagi padamu. Wajahmu telah berusaha kulupakan, tawamu juga, apalagi kernyit keningmu kala senyum tertahan olehmu. Sulit kulupakan makna kernyitanmu, namun tak dapat kulupakan pandangan matamu saat itu. Kuyakin ada cinta di dalamnya,  namun tak kuasa untuk kuteduhkan dalam rasamu. 

Cukup lama diriku berusaha melupakanmu, tiga tahun. Semula diriku yakin telah mampu, hingga sore ini telah menghancurkan keyakinanku.Wanita itu, telah mengembalikan semua rasaku. Engkau telah menjelma kembali pada wanita itu, tatapan matanya sangat kuyakini itu. Keteduhannya telah membuatku menitikkan airmata saat menuliskannya saat ini.

Indah, maafkan diriku bila telah menyamakanmu dengan wanita itu. Kutahu dirimu tak mau disamakan,  wanita tadi juga tak mau disamakan. Namun kemiripanmu telah menghancurkan kekokohanku. Diriku ternyata masih tetap lemah mengalahkan rasa cinta ini. Maafkan.....

Indah, kini izinkan diriku memenuhi ruang masa ini dalam bertumpuk kertas penuh tulisan tentang rasaku. Tumpukan kertas yang tak akan pernah kau baca, nikmati, apalagi menyimpannya dalam lubuk hatimu.Indah,  izinkan diriku mendekati wanita itu dalam mimpiku. Izinkan diriku mengukuhkan rasa dengan menikmati kehadirannya. Izinkan pula diriku memenuhi ruang jiwa ino dengan berimajinasi padanya.  

Kuharap dirimu disana tetap menikmati indahnya pantai berpasir kwarsa. Tiupan angin laut di jelang sore yang kian teduh, deburan ombak kecil menikmati langkah kakimu, dan temaram senja sore yang bersiluet merah dan kuning mengiringi perahu nelayan yang bertambat di pinggiran. 

Kuharap dirimu mengizinkanku menikmati ruang masa yang tersisa dengan memenuhi tumpukan kertas ini dengan banyak pergolakan rasa. Terima kasih, semoga kau menikmati kebahagiaan di ujung pulau berpasir kwarsa....."

Jumat, 05 Juni 2015

Senja Membelah di Selat Karimata

Sudah lebih dari dua jam Affan menyendiri di bawah pohon cemara laut, sejak selepas ashar tadi. Air laut yang hampir pasang penuh di awal Juni ini tak diindahkannya lagi, bahkan sebagian cipratan ombak yang melebur di pantai itupun nyaris tak menggugah rasanya untuk menjauh dari bibir pantai, menghindar dan mencari tempat yang aman untuk melanjutkan lamunannya. Entah apa yang dipikirkannya, telah lebih dari seminggu ini ia selalu menyendiri di pantai ini. Nampak sekali kegundahan demi kegundahan telah menghajar dirinya ke tepian rasa.  

Cheiza Alfinia....
Wanita indah berbulu merak, menari-nari di sepanjang hidupnya.  Tak tahu dimana kini ia berada. Sudah tiga tahun ini kerinduannya pada Cheiza dikuburkannya, entah mengapa seminggu ini kembali menjelma. 

Ingatannya kembali pada diorama kehidupan yang telah dijalaninya bersama sejak benih-benih rasa itu berkembang kala masa akil balik baru dirasa,  pertengahan Sekolah Menengah Pertama. Terlalu muda bagi banyak orang untuk mengenal dan menumbuhkan rasa cinta, namun tidak bagi Affan pada wanita yang sangat dikaguminya. Anak Kepala Sekolah, wanita berparas rupawan yang mengalir darah Tionghoa di dalamnya. Kulitnya nan halus, bersih dan putih,  jelas berbeda dengan kebanyakan wanita Melayu.

Cheiza Alfinia....
Nia yang hanya panggilan olehnya, sebagai pembeda atas kedekatannya pada Chiesa. Bukan panggilan sayang, karena cinta belumlah diungkapkan. Terlalu lancang untuk dihamburkan, karena cinta sejati baginya adalah cinta yang diikhlaskan, meski untuk wanita seribu masa di kehidupan bergemilang dan berlimpahruah rasa. Cukuplah bermain rasa, hingga masa kehadiran akan diungkapkannya dengan penuh pengharapan.  Tak sanggup baginya bermain kata, menghamburkan jutaan kata melambungkan Cheiza. Bila bathin berasa, maka katapun hanyalah serangkai huruf yang menguatkan makna. 

Telah tiga tahun,  tak didengarnya kabar berita burung meraknya. Kepak sayap keindahan tak lagi bertampuk di hadapan mata, tari riangnya tak pula dihadirkan dalam pelupuk jiwanya,  apalagi serentetan kicauan murni berdaya jiwa meletup rasa. 

Cheiza, tiga tahun sudah ia pergi. Menjauh, meninggalkan,  dan menguburkan ribuan rasa. Ia telah berjalan jauh melewati laut Jawa, melintasi derasnya arus Selat Karimata, dan pergi melanjutkan mimpinya hingga ke Borneo. Membawa hati yang tak ia ketahui apa yang dirasa,  karena ungkapan cinta tak pernah diungkapkannya hingga kini.

"Ahh.....adakah kini ia sedang bersenda gurau dengan rasa yang kumiliki? Borneo, tak pernah kutahu kabar dirimu disana.  Adakah gelar sunyi juga kau nyanyikan di tepian Sungai Mahakam sore ini? Ceritakan padaku bagaimana riangnya pesut-pesut itu menikmati keindahan sore. Kalau saja dirimu ada disini, kan kuceritakan pula banyak kebahagiaan yang pernah kusaksikan saat melintas dan menembus Selat Gaspar ditemani tarian lumba-lumba yang berlari ceria. Bercipratan air mengiringi nyanyian baling-baling membelah arus yang menggoda......."

Kamis, 04 Juni 2015

Jamur di Akhir Musim Penghujan

Affan Nur Aditya....
Nyaris tiga tahun telah dilupakannya nama lelaki itu, sahabat sejak kecil, baik dan menyenangkan. Lelaki yang hampir limabelas tahun menjadi sahabat terbaiknya yang selalu mendorongnya untuk meraih mimpi. Sayang, sahabat inilah yang mengkandaskan harapannya di awal masa remajanya tiga tahun lalu. Cintanya kandas karena Indah Purnamasari,  wanita berbola mata bak purnama empatbelas lebih memilih Affan ketimbang dirinya. Kekecewaan inilah yang akhirnya mengandaskan kapal nasibnya hingga ke Negeri Sembilan, menjadi buruh pengupas kelapa, bertarung keringat hingga di jelang senja.

"Ah.....hidup tidak bisa kutebak. Entah rahasia apa yang akan ditunjukkan Tuhan di hadapanku kelak," dalam tarikan nafas Mukhlis saat berucap dalam hati.

"Akankah kutemukan lagi wanita seindah dirinya di paruh usai yang kumiliki?  Adakah wanita Melayu seperti ia di negeri ini?"

"Assalamualaikum pak cik, hari la sore tu. Kite nak cepat balik. Hari ini kite kan nak ke majelis peribadatan. Tak ke pak cik nak ikut? ," Udin, lelaki kecil yang berkepala botak mirip Upin dan Ipin berujar.

"O ye, ade ke di majelis peribadatan itu cakap bagus? Bile ade, pak cik nak datang la".

"Ade la pak cik, kan ahad pekan ketige ramai orang datang.  Orang yang ceramah pasti orang hebatlah pak cik. Cepatlah kite berangkat".

****

Tiba di majelis peribadatan,  Mukhlis takjub melihat begitu banyak orang yang telah hadir. Sebagian besar para lelaki berbaju gamis putih, sedangkan para wanita berbaju kerudung putih. Anak-anakpun demikian. 

Pintu utama terlihat sudah penuh, hanya pintu sisi kirilah yang nampaknya masih mungkin ddilewatinya. 
"Ah....andai sejak selepas zhuhur tadi aku kesini, tentu tak perlu berpayah ria mencari tempat duduk yang nyaman.  Lupakan duduk di dalam, dapat duduk di pinggir pengeras suara di pinggir pintu inipun sudah cukup," gumamnya dalam hati saat tak sedikitpun ruang di dalam mesjid itu yang dapat diiisinya.

"Maaf pak cik, ade tak tengok adikku yang tadi lewat atau duduk dekat sini. Orangnye berbaju biru, tapi tak bersongkok, tingginye semeter lebih sikit lah," seorang wanita tiba-tiba mendekat dan bertanya padanya. 

Melihat wanita itu, Mukhlis terdiam sesaat, dan tanpa disadarinya mulutnya berkata ," Indah......"

"Maaf pak cik, ape kate pak cik tadi?"
"Beeb...beep beep.....maaf, ape yang tadi nak ditanye?," tanya Mukhlis gugup, ia tak mampu menutupi kekagetannya saat wajah wanita itu dilihatnya. 

"Pak cik tadi tak tengok adikku yang berbaju biru tapi tsk bersongkok dan tingginya semeter lebih sedikit lewat sini," ulang wanita itu.

"Ade, tadi budak kecik itu duduk dekatku, tapi baru saje pegi, tak tahu kemane".

"Terima kasih pak cik," ucapnya sambil berlalu.

Pelan, sosok itu menghilang di keramaian. Tak disadari Mukhlis,  airmatanya menetes. Kerinduannya pada Indah kini bergelora kembali. Wanita itu kembali mengingatkan memorinya.  Wanita yang menurut perkiraannya berusia tak berbeda jauh dengan Indah, duapuluh tahun. Rambutnya sebahu, hidungnya yang bangir, tak mancung,  namun serasi dengan wajahnya nan oval berbalut kulit putih bersih.

"Ya Tuhan,  mengapa kau hadirkan kembali ia dalam wujud yang sama di tempat ini? Tiga tahun sudah aku merantau, tiga tahun sudah kupaksakan melupakan dirinya. Mengapa semakin menjauh dan diriku memisahkan diri darinya sejauh ratusan mil melewati selat karimata, laut cina selatan, hingga selat malaka ini, namun tak mampu kulupakan dirinya? Haruskah wanita tadi menjadi penggantinya?".

Pelan namun pasti, hari ini tanpa disadarinya, cinta itu kembali bersemi. Wanita itu,  mungkin adalah wanita di ribuan hari lalu yang telah memanggilnya hingga langkahnya terhempas di Negeri Sembilan. Jamur kembali tumbuh di penghujung musim hujan, menerbitkan taburan rasa cinta yang telah dibenamkan di ribuan hari penuh duka.

Senin, 01 Juni 2015

Jeda : Kita adalah pembawa obor kesejahteraan

"Liburan....hmmm,  harpitnas, entah sudah harpitnas yang keberapa hari ini," begitulah sorang sahabat berujar di jelang sore ini. 
"Kita memang butuh istirahat, jeda yang berarti. Sayang, ternyata setelah setiap harpitnas saya ikut libur, ternyata........tak seindah yang kubayangkan! Bukan dompetnya saja, tapi ada kejenuhan yang mulai melanda. Nampaknya jedah itu hanya perlu beberapa saat, jangan libur terlalu lama atau terlalu sering. Jadi susah restart-nya," lanjutnya.

"Dirimu tak ikut ambil jeda?," tanyanya penuh penasaran.
"Tidak kawan, belum satu harpitnas-pun yang kuambil di lima bulan terakhir tahun ini. Semuanya kuisi dengan pekerjaan rutin, juga yang tak rutin. Saat banyak orang liburan, saat itulah kunikmati pekerjaan di kantor dan di rumah dengan sesuatu yang baru. Mungkin caranya yang baru, mungkin isinya yang baru, atau juga mungkin tantangannya yang baru. Jadi terasa lebih fresh, meski harus kutemukan cara baru untuk menikmati hal-hal rutin, apalagi di saat hampir sebagian dari mereka menikmati cara merefresh diri dengan berlibur dan menikmati santai yang menyenangkan dan menenangkan," jawabku.

"Jadi dirimu tak perlu liburan?"
"Bukan begitu kawan, kali ini kupilih cara merefresh diri dengan mengelola diri dan mengeksplorasi diri di saat hampir seluruh ruangan kantor ditinggalkan para pemiliknya. Kadang kita butuh ketenangan yang mendalam saat mengerjakan tugas-tugas kantor yang butuh keheningan. Kala inilah kudapatkan ketuntasan, juga cara baru untuk menikmatinya. Tidak hanya untuk hari ini, namun juga untuk hari-hari berikutnya"
***

Dialog kecil, kudengar sore ini. Dialog yang cukup inspiratif, dan mengundang rasa penasaranku untuk menggali lebih jauh apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh si fulan, sahabat yang akhirnya memutuskan untuk tetap bekerja di saat sebagian besar sahabatnya berlibur dan berpantang hari melihat harpitnas. Rasa penasaran, tentu saja bukan karena apa yang dilakukannya hampir mirip dengan apa yang kulakukan di lima bulan terakhir ini, namun lebih karena cukup menariknya hal ini untuk jadi sumber inspirasi tulisan, juga tentunya untuk ice breaking dan cerita singkat saat sesi pelatihan yang sudah sepuluh tahun terakhir ini kulakoni.

Jeda, kita semua memang butuh jeda. Alampun juga ikut berjeda. Malam berganti siang, gelap berganti terang, ramai berganti hening, dan mimpi berganti impian. Silih berganti, tiada berhenti, hingga rotasi dunia berakhir di penghujung masa. Jedahlah, yang membuat sebagian dari kita memilih untuk berlibur dan bersantai selepas lelah menggulung rasa di sepanjang perjalanan. Libur dan henti sejenak, untuk kemudian lari dan lompat hingga melesat di sisa perjalanan yang ada.

Ingat perjalanan diri, ingatanku kembali pada kejadian lebih dari sepuluh tahun lalu. Saat itu, seorang lelaki muda yang sungguh energik, duduk penuh wibawa namun dengan keramahan luar biasa. Namanya sangat kuingat, karena nama itulah yang tertulis dalam email saat undangan "final interview". Lelaki yang pernah beberapa kali kubaca tertulis di spanduk panjang di sebuah pertigaan jalan, pembicara dari banyak pelatihan yang diadakan oleh sebuah lembaga pelatihan profesional di kotaku.

"Silahkan perkenalkan dirimu....", ucapnya membuka pembicaraan kala itu.
Tanpa banyak prolog, kuperkenalkan diriku, curriculum vitae, dan swot yang kuyakini benar saat itu. 
"Terima kasih, sudah banyak kudapat apa yang telah dirimu pikirkan. Bahasa tubuhmu cukup kufahami, hasil psikotestmu juga sudah lengkap, data-data pendukung juga sudah ada," ucapnya sambil tersenyum.

"Satu hal yang ingin kutanya : Apa pendapatmu tentang profesi yang sekarang akan kau geluti bila dirimu diterima di tempat ini. Bukankah menjadi Trainer itu sama saja dengan menjadi seorang guru, penghasilan kecil, fasilitas seadanya, namun diharapkan menjadi booster dan motivator dari sekian banyak orang yang ada di sekelilingmu?"

"Maaf pak, sebelum saya menjawab hal itu, izinkan saya menyampaikan satu hal dulu. Bukankah Bapak juga seorang Trainer? pernah beberapa kali kubaca spanduk pelatihan yang pembicaranya adalah Bapak, meski belum satupun sesi tersebut kuikuti karena keterbatasan biaya," tanyaku.

"Betul, saya Trainer, meskipun sebetulnya disini profesiku di HR Department. Trainer menjadi seperti obat yang mujarab bagiku untuk menyembuhkan diri. Pelan namun pasti, pada akhirnya menjadi Trainer akhirnya menjadi obat yang menyehatkanku," jawabnya.

"Ternyata ada hal yang mirip denganku pak, hanya saja sebetulnya menjadi Trainer itu bukanlah seperti lilin. Diriku jelas tak mau menjadi lilin yang menerangi sekeliling untuk beberapa waktu, memberikan arti hanya untuk sesaat, untuk kemudian hilang musnah tiada berbekas, hanya menjadi sebuah cerita masa lalu," ujarku.

"Lalu dirimu mau menjadi apa?," tanyanya.
"Sederhana saja pak, seorang Trainer seperti saya ingin menjadi seorang lelaki biasa yang memegang obor untuk menerangi jalan orang lain, juga menerangi diriku bersama mereka. Kami berjalan bersama, berbuat bersama, dan mencapai tujuan yang kadang sama. Sama-sama terang dan berjalan tenang, menikmati perjalanan dengan kegembiraan, dan berharap agar perjalanan di depan semakin mudah. Mudah bukan karena tantangannya semakin rendah, namun kompetensi kami semakin meningkat dan bermanfaat".

***

Lantas pertanyaannya adalah apa kaitan dua cuplikan tulisan di atas?
Tetap sederhana jawabannya : Kita butuh jeda waktu untuk mengingat, menginternalisasikan, dan menasbihkan banyak jejak perjalanan diri. 
Berjalan terus, menapak terus, jelas tak akan banyak memprasastikan makna yang kita raih dalam banyak perjalanan kehidupan.  Ilmu memang makin ditebar makin bermakna, namun makna menjadi berkurang bila sang empunya jiwa tidak memaknainya terlebih dahulu dengan segenap kemampuan asahan diri.

Makin tinggi jabatan seseorang, idealnya makin bijak berperi ia di bumi. Makin berilmu seseorang, harapannya makin berisi kata-kata yang ia bagi. Makin dalam perjalanan makna seseorang, maka tentunya diharapkan kedalaman maknanya kian banyak dibagi untuk refleksi diri.

Jeda, apapun caranya, dimanapun tempatnya, dan bagaimanapun prosesnya tentu diharapkan kita akan bermula di awal cerita namun dengan semangat yang berbeda. Makin bijak berperi, kata-kata makin berisi, dan makna kian merefleksi diri. 

Tidak hanya pada diriku, sahabat semua, kita semua, dan siapapun yang ingin menasbihkan makna di sisa usia yang ada. Kita adalah apa yang kita berikan, makin banyak kita memberi maka akan bertambah banyak yang kita miliki.
Selamat melanjutkan proses sahabat.....
                         



Kamis, 28 Mei 2015

Perubahan : Aku Begini, Engkau Begitu, Kita Tak Lagi Sama

-Seseorang akan mengalami perubahan yang signifikan dalam hidupnya apabila terjadi perubahan yang drastis pada pola pikirnya-

*****

Siang ini, setelah nyaris sebulan tak kuisi secuil kalimat di blog ini, ada berbongkah rasa rindu untuk menggoreskannya kembali. Bukan bermaksud berpamer ria atas banyak jalan kehidupan yang telah dirasa, namun lebih karena salah satu esensi kehidupan itu adalah berbagi : semakin dibagi maka akan semakin banyak dan berlipat, kelimpahruahan dalam kehidupan, prolong abundance.

Di jelang sore, di balik jendela yang menyembunyikan panasnya mentari yang sejenak akan mencapai kulminasi di langit kabah, tepat di atasnya. Di tengah banyak ruang bicara tiupan sangkakala yang berbantah ria, makna perubahan kian dirasa. Perubahan yang dikatakan oleh seorang penulis dalam buku yang sama yang mengatakan, "Ketika tiba-tiba kita berhenti dan orang di kanan kiri secara mendadak maju, maka kita akan merasakan sebuah tarikan ke belakang yang memusingkan".

Lantas mengapa perubahan yang kembali kuulas kali ini? Sederhana jawabannya : bila kita tak berubah berarti kita menuju kepunahan abadi.
Bukankah esensi kehidupan itu sendiri adalah perubahan?  Mereka yang berubah,  merekalah yang mengisi kehidupan ini dengan kebanggaan dan kebahagiaan.  

Perubahan bagi sebagian orang sesungguhnya tidaklah sederhana, namun rumit luar biasa. Setidaknya begitulah yang sering kuhadapi dan kudengar dari banyak peserta pelatihan yang rutin kulakukan hampir setiap hari. Perubahan yang bahkan bagi diriku kadang juga terasa rumit, namun setelah menyadarkan dan menyandarkan diri, ternyata malah simpel dan sederhana.  

Betulkah?
Mungkin hanya gurauan basi dan kosong di panas terik jelang sore ini, namun tidak bagi kita yang memang ingin merubah dan mendapatkan kebiasaan baru. Bukankah berubah juga berarti memiliki dan menikmai kebiasaan baru? Bukankah pula bila memiliki kebiasaan baru berarti memiliki harapan baru, kebahagiaan baru, dan masa depan baru? 

Coba kita sama mengingat bagaimana seorang anak kecil menikmati perubahan demi perubahan setiap hari. Dari hanya tergolek lemah dan hanya bisa menangis, kemudian setiap hari bereksplorasi diri menemukan dan mencipta perubahan baru, dan akhirnya menjadi seorang manusia yang sungguh luar biasa. Perubahan bukan hanya sekedar mengikuti naluri dan insting belaka, namun lebih jauh dari itu yaitu memastikan kita melangkah dan bergerak di saat orang dan lingkungan di sekeliling kita bergerak,  tidak hanya di kanan kiri,  namun juga di depan dan di belakang.  Mereka yang bergerak,  merekalah yang menikmati perubahan dengan kegembiraan dan bersiap diri menerima dan menikmati kelimpahruahan, real abundance.

Pada akhirnya,  hanya butuh satu kekuatan : berani dan terus bergerak di saat banyak orang belum bergerak. Usia, pengalaman, status sosial, profesi, dan hirarki diri bukanlah jaminan untuk mendapatkan kelimpahruahan. Apa yang kita pikirkan saat ini, apa yang kita lakukan saat ini, tentu bukanlah hal yang pasti akan menentukan apa yang kita dapatkan hari ini, see-do-get dalam konteks yang sebenarnya.  Namun juga keberanian diri untuk berjalan menikmati perubahan, juga sama pentingnya dengan mengantisipasi perubahan itu sendiri. 

Kemaren kita salah, kemaren kita kalah, dan kemaren kita lemah. Hari ini kita membenahi diri, hari ini kita membesarkan diri, dan hari ini kita menguatkan diri. Esok kita menikmati kebenaran, esok kita memenangkan pertarungan,  dan esok kita menguatkan orang lain.