Affan Nur Aditya....
Nyaris tiga tahun telah dilupakannya nama lelaki itu, sahabat sejak kecil, baik dan menyenangkan. Lelaki yang hampir limabelas tahun menjadi sahabat terbaiknya yang selalu mendorongnya untuk meraih mimpi. Sayang, sahabat inilah yang mengkandaskan harapannya di awal masa remajanya tiga tahun lalu. Cintanya kandas karena Indah Purnamasari, wanita berbola mata bak purnama empatbelas lebih memilih Affan ketimbang dirinya. Kekecewaan inilah yang akhirnya mengandaskan kapal nasibnya hingga ke Negeri Sembilan, menjadi buruh pengupas kelapa, bertarung keringat hingga di jelang senja.
"Ah.....hidup tidak bisa kutebak. Entah rahasia apa yang akan ditunjukkan Tuhan di hadapanku kelak," dalam tarikan nafas Mukhlis saat berucap dalam hati.
"Akankah kutemukan lagi wanita seindah dirinya di paruh usai yang kumiliki? Adakah wanita Melayu seperti ia di negeri ini?"
"Assalamualaikum pak cik, hari la sore tu. Kite nak cepat balik. Hari ini kite kan nak ke majelis peribadatan. Tak ke pak cik nak ikut? ," Udin, lelaki kecil yang berkepala botak mirip Upin dan Ipin berujar.
"O ye, ade ke di majelis peribadatan itu cakap bagus? Bile ade, pak cik nak datang la".
"Ade la pak cik, kan ahad pekan ketige ramai orang datang. Orang yang ceramah pasti orang hebatlah pak cik. Cepatlah kite berangkat".
****
Tiba di majelis peribadatan, Mukhlis takjub melihat begitu banyak orang yang telah hadir. Sebagian besar para lelaki berbaju gamis putih, sedangkan para wanita berbaju kerudung putih. Anak-anakpun demikian.
Pintu utama terlihat sudah penuh, hanya pintu sisi kirilah yang nampaknya masih mungkin ddilewatinya.
"Ah....andai sejak selepas zhuhur tadi aku kesini, tentu tak perlu berpayah ria mencari tempat duduk yang nyaman. Lupakan duduk di dalam, dapat duduk di pinggir pengeras suara di pinggir pintu inipun sudah cukup," gumamnya dalam hati saat tak sedikitpun ruang di dalam mesjid itu yang dapat diiisinya.
"Maaf pak cik, ade tak tengok adikku yang tadi lewat atau duduk dekat sini. Orangnye berbaju biru, tapi tak bersongkok, tingginye semeter lebih sikit lah," seorang wanita tiba-tiba mendekat dan bertanya padanya.
Melihat wanita itu, Mukhlis terdiam sesaat, dan tanpa disadarinya mulutnya berkata ," Indah......"
"Maaf pak cik, ape kate pak cik tadi?"
"Beeb...beep beep.....maaf, ape yang tadi nak ditanye?," tanya Mukhlis gugup, ia tak mampu menutupi kekagetannya saat wajah wanita itu dilihatnya.
"Pak cik tadi tak tengok adikku yang berbaju biru tapi tsk bersongkok dan tingginya semeter lebih sedikit lewat sini," ulang wanita itu.
"Ade, tadi budak kecik itu duduk dekatku, tapi baru saje pegi, tak tahu kemane".
"Terima kasih pak cik," ucapnya sambil berlalu.
Pelan, sosok itu menghilang di keramaian. Tak disadari Mukhlis, airmatanya menetes. Kerinduannya pada Indah kini bergelora kembali. Wanita itu kembali mengingatkan memorinya. Wanita yang menurut perkiraannya berusia tak berbeda jauh dengan Indah, duapuluh tahun. Rambutnya sebahu, hidungnya yang bangir, tak mancung, namun serasi dengan wajahnya nan oval berbalut kulit putih bersih.
"Ya Tuhan, mengapa kau hadirkan kembali ia dalam wujud yang sama di tempat ini? Tiga tahun sudah aku merantau, tiga tahun sudah kupaksakan melupakan dirinya. Mengapa semakin menjauh dan diriku memisahkan diri darinya sejauh ratusan mil melewati selat karimata, laut cina selatan, hingga selat malaka ini, namun tak mampu kulupakan dirinya? Haruskah wanita tadi menjadi penggantinya?".
Pelan namun pasti, hari ini tanpa disadarinya, cinta itu kembali bersemi. Wanita itu, mungkin adalah wanita di ribuan hari lalu yang telah memanggilnya hingga langkahnya terhempas di Negeri Sembilan. Jamur kembali tumbuh di penghujung musim hujan, menerbitkan taburan rasa cinta yang telah dibenamkan di ribuan hari penuh duka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar