Rabu, 14 Januari 2015

Langkah Baru (2)

Satu persatu penumpang memenuhi mobil ini. Hampir seluruh jalan-jalan Gantong dilewatinya. Penuh sesak muatan dipenuhi, barang dan orangpun disusun layaknya benda mati.
"Susun kayu bakar, sungguh tidak bernurani," pikirku.
Ini memang ironi anak negeri, meski sudah empat puluh tiga tahun negeri merdeka, kenyamanan dan kenikmatan hanyalah milik segelintir orang. Berhimpitan seperti kayu bakar sudah biasa, bersusun sirih sudah biasa, bercampur bau dan keringat tentu makin menyedapkan rasa.
"Hidup ini indah, seindah-indahnya kehidupan," inilah pikirku kala melihat seorang lelaki berbaju kaos hitam, bertopi coklat, dan berjaket kumal penuh daki. Matanya yang tertutup rapat, gigi tonggosnya yang menonjol berhias karat asap rokok, dan suara dengkurnya makin melengking saja. Tak sedikipun dihiraukannya himpitan seorang ibu muda yang tengah hamil di sebelahnya, tak tergubris sedikitpun tidurnya oleh tangis seorang anak kecil  yang kedinginan tertiup angin dari jendela yang telah ia buka tadi.
"Sungguh tak bernurani!"
Entahlah siapa yang sesungguhnya tidak bernurani; Pemimpin negeri ini yang membiarkan banyak kampung terisolasi, hingga demi membeli sekilo dagingpun mereka harus berangkat ke Tanjongpandan. Ataukah Toke mobil yang menetapkan setoran angkutan desa melebihi kuota. Mungkin saja sang sopir yang menyusun penumpang seperti kayu bakar dan korek api demi sesuap nasi, atau penumpang yang bersedia berdesakan demi menikmati kegembiraan  di Tanjongpandan.
"Alamaaakkk.....sempitnya. Cukuplah oi, ndak muat lagi." ibu muda yang hamil tadi berteriak memprotes saat sang kernet kembali menaikkan penumpang persis seratus meter sebelum jembatan di kampung Lintang.
Seolah tak mendengar sama sekali, ataukah memang yang terbayang pada sang kernet hanyalah beberapa lembar uang senilai tigaribu lima ratus rupiah, ia tetap saja menaikkan penumpang.  Seorang nenek tua berambut putih melangkahkan kaki hendak masuk ke dalam mobil.
"Mane ade tempat agik jang, la peno...." kental sekali nenek berucap dalam logat Belitong asli.  Bahasa yang semakin langka. apalagi untuk Belitong perantauan yang merasa primordialisme-nya tak terusik lagi.
Enteng saja sang kernet berkata,"Masuk ke dalam saja nek, masih muat".
"Ndak muat agik jang!"
"Ada nek. Ayo geser sedikit, anaknya dipangku saja bu, nenek ini mau duduk," ujarnya pada wanita hamil tadi yang rupanya juga membawa anak kecil berbaju kaos coklat.
"Makin tidak bernurani." gelengku.
Ingin rasanya diri ini menggeser tempat duduk dan mempersilahkan sang nenek duduk di deretan bangku belakang. Ingin hati mengatakan bahwa masih ada nurani pada beberapa penumpang, namun apalah daya, jangankan untuk menggeser duduk barang duapuluh lima sentimeter, untuk bergerakpun sudah tak mungkin.
Entah tips apa yang diucapkan sang kernet, mungkin jampi ataupun sebuah paksaan, ibu muda tadi menggeser dan memangku anaknya persis di atas perutnya yang sedang hamil. Sementara lelaki tua di sebelahnya tetap asyik mendengkur tanpa menghiraukan gundah gulana, gelisah melanda, dan sempit yang kian menyiksa jiwa sang ibu muda.
"Ninek dekat sinilah cu, berhenti di Aik Ruak saja." ucap sang nenek pada si kecil di sebelahnya seolah ingin menenangkan ibunya yang tengah bersumpah serapah dalam hatinya.
"Sini, pangku dengan ninek saja." diulurkannya tangan si nenek pada si kecil tadi.
"Biarlah nek, dia tak mudah dekat dengan orang lain."
"Alhamdulillah, benar masih banyak orang yang bernurani." gumamku.
Semula pikiranku mulai mencari analogi yang tepat untuk keadaan penuh sesak dalam angkutan desa ini, sebuah mobil metromini yang sepenuhnya hanya muat tak lebih dari limabelas orang, bukan duapuluh dua orang.
"Ahaa.....susun ikan cempedik, ini benar-benar susun ikan cempedik, bukan susun kayu bakar. Paslah, ini kampung Lintang. Ikan cempedik selalu identik dengan kampung Lintang. Lintang penghasil ikan cempedik, Lintang tempat susun penumpang seperti ikan cempedik," geli terasa membayangkan analoginya.
Satu jam berlalu sudah. Selama itu pula tak kurasakan lagi desakan menghimpit di dada, tak kudengar lagi teriakan ataupun sumpah serapah dari para penumpang atau kernet yang silih berganti, karena selama sejam ini tak sedikitpun mata dapat berkompromi; lelap menghunjam hingga jauh ke pusat bumi, tidur pulas!
"Ayo, semua sudah sampai terminal. Semua penumpang turun, kalau mau ke pasar silahkan naik mobil 32, kalau mau ke Ari Raya naik 22," teriak sang kernet sambil tangannya sibuk menarik ongkos dari para penumpang.
sumber : belitongekspres.co.id
Terminal yang selama ini kubayangkan, sungguh berbeda dengan yang kulihat sekarang. Pulogadung yang kubayangkan, namun itu hanya dalam televisi. Terminal Tanjongpandan terhanya hanyalah sebuah area seluas tak lebih dari seratus meter dikali limapuluh meter, dengan beberapa bangunan permanen namun sederhana desainnya.  Satu hal yang menyamakannya, ada sederet mobil berjejer rapi mengelilingi sebuah shelter sepanjang tak lebih dari satu tiang telepon dengan beberapa bangku sederhana dari papan berkaki besi siku sebesar ibu jari kaki. Tak ada penjaja kacang yang berkeliling, kecuali penjual jagung Madura yang bersusun rapi di pinggir sebelah kiri jalan, persis duapuluh depa dari tempatku berdiri. Jauh di belakangnya, sebuah podok beratapkan daun sagu tak lebih besar dari duasetengah kali dua meter dengan jejeran kursi sederhan dari sekeping papan sepanjang dua meter berkaki kayu seru tertanam dalam tanah.
"Mungkin inilah penjual mie Belitong yang pernah diceritakan bang Faridz dulu", pikirku. 
"Nyenyak benar tidurmu, sampai suara dengkurmu keras sekali.  Banyak penumpang yang tersenyum melihatmu,"  tersenyum kulihat umak berkata seolah menyindirku.
"Tapi baguslah, jadi sempat istirahat. Mungkin nanti di kapal ferry kau tak bisa tidur".
"Ah kapal ferry, membayangkannyapun belum pernah, apalagi melihatnya. Bisa tidur atau tidak,  itu lihat nantilah".
"Ya lah nak, tenang saja. Sekarang bulan Mei. Gelombang tak tinggi, air laut tak bergolak, alun lautpun tak muncul. Ikan sedang banyak-banyaknya, jadi perjalananmu akan menyenangkan", ditepuknya bahuku seolah ingin mendamaikan kegundahanku.
"Ah mantap, semoga kulihat ikan lumba-lumba yang katanya senang mengiringi deru mesin ferry di selat Gaspar selepas pulau Selat Nasik", tersenyum kubayangkan indahnya perjalanan nanti sore, perjalanan menggapai harapan di tanah seberang, menuju Venesia dari Timur kata sebagian orang untuk merujuk kota Palembang nan jauh di hadapan.

----- bersambung ---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar