Apresiasi dan kritikan, mirip dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Tak akan bernilai utuh bila uangnya hanya satu sisi, tak kan mampu menunaikan tugasnya bila uang tadi hanya sebelah saja yang bermotif, sedangkan sisi sebelahnya tetap polos tak berarti.
Demikian pula dengan Syair Keranjang Pempang ini, jelas butuh apresiasi juga kritikan. Aroma pesimis, plagiator, oportunis, self oriented, hanya bernuansa lokal, saat membaca tapi pembaca merasa seperti hanya jadi penonton dan tak ikut dalam emosi dari suasana yang diciptakan, mungkin ini beberapa komentar yang sesungguhnya memang ada dan banyak disana sini. Sayang komentar, lebih tepat dikatakan kritikan itu belum ada satupun yang masuk ke inbox fb, twitter, ataupun blog sederhana ini. Meskipun sesungguhnya tetap dinantikan agar mata uang akan lengkap pada kedua sisinya.
Namun sebagaimana sebuah perjalanan,langkah itu sudah ditegaskan. Meski siang teriknya sudahlah pasti, gerimis dan hujan siap menghunjam, petir dan angin siap menerjang, pastilah akan banyak aral menantang. Pulau harapan tetap harus diraih, bukan pulau dengan penuh teriakan ketinggian hati, apalagi kesombongan diri tak bernurani, namun tetaplah kebanggaan karena sudah kubaktikan diriku pada negeri ini dan tanah kelahiran dengan sebuah karya sederhana dalam tuturan keseharian yang kuanggap penuh makna.
Telah banyak komentar sangat positif kudapatkan dalam seminggu belakangan, menggugah, menggelorakan, bahkan kadang juga membuatku merenung akan harapan dari semua kerabat dan sahabat.
Pelan namun pasti, kutambahkan dan akan terus kutambahkan komentar mereka tentang Syair Keranjang Pempang di blog sederhana ini, semoga akan semakin menggugah dan menggairahkan kita semua yang berencana untuk membacanya dan menjadikan novel kehidupan ini menjadi sebongkah kertas yang menambah deretan buku di lemari yang sudah tersusun rapi.
Lemari yang tentunya selama ini sangat bermakna dan akan bertambah maknanya dengan kehadiran Syair Keranjang Pempang di dalamnya, semoga!
*****
lanjutan komentar tentang Syair Keranjang Pempang :
16. Itu covernya bagus, menarik. kalo dipajang di toko buku, paling tidak eye catch lah...
(Nurhayat Arif Permana, Pelukis, Penyair dan Pengarang buku Stanza Lara - Jkt, Plg)
17. laris manis di hujan gerimis, lariis lariiis lariiisss...Kirim no rekeningmu Win, segera kirimi aku bukunya
(Rengga Astuti, Entrepreneur - Kelapa Kampit)
18. Akan kucari bukunya kalau sudah dijual
(Samianah, Bidan asal Lilangan, menetap di Plg)
19. Congrat bro...
(Nita, Jkt)
20. Sukses ya bang, semoga diberikan kemudahan olehNya, amien
(Yosi, Entrepreneur - Martapura)
21. Segera akan dibeli bila sudah terbit
(Mersi Yasmin, Notaris - Palembang)
22. Hebat !!
(Harmadi Derasid, Guru Bangsa - Palembang)
23. Buku ini adalah karya seorang sahabat tentang perjuangan kehidupan
(Darmadi, District Sales manager - Palembang)
24. Mengetuk semangat
(Lia, karyawan swasta - Palembang)
25. Selamat untuk kang Ase untuk launch bukunya
(Dony H, Overseas Product Manager - Jkt)
26. Wow!! sangat menarik!
(Ida F, Penulis - Tanjungpandan)
27. carefully on the way will make us reach out destinations safely... Good luck
(Heru, Entrepreneur - Jkt)
28. Keranjang Pempang tak pernah lepas dari hidupku
(Emil Marli - Bandung)
29. Keranjang Pempang selalu membawa kenangan indah
(Tatum, Guru - Pelalawan Riau)
30. Memori keranjang pempang, so sweet
(Nengyu Oktavia, Entrepreneur - Semarang)
****berlanjut pada postingan selanjutnya ****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar