Senin, 12 Januari 2015

Bujang (2)


Ayo berangkat," ujarnya setelah ditemukannya sandai cokhai, sepasang sandal berbahan karet bekas ban mobil. Sandal yang hanya ditemuinya ada di Belitong, meskipun beberapa tahun yang lalu ia pernah ke Bangka, juga saat ke Singkep setahun kemudian.
"Kriut....kriut....kriut...," derik bunyi sepda itupun bernyanyi kala dikayuh. Entah ini nyanyian indah mengharap sang bayi, ataukah nyanyian cemas menggoda diri, karena inilah kelahiran kelima yang harus ia saksikan. Derik bunyi sepeda bukanlah pertanda nyanyian itu disengaja karena rantai sepeda lama tak diminyaki, bukan pula pertanda malas karena tak dirawat, namun nyanyian ini karena selama sebulan ini sepeda telah menunaikan tugasnya dengan penuh suka cita : mengumpulkan ratusan puntung demi puntung kayu bakar untuk persiapan kelahiran sang calon bayi. Bayi terakhir yang diharapkan menjadi wanita sempurna layaknya dewi Andini atau putri Drupadi, atau menjadi lelaki bercahaya layaknya Arjuna.
Tidak butuh waktu lama untuk tiba di rumahnya, cukup seribu lebih kayuhan sepeda, ribuan tetes keringat, dan ribuan tarikan nafas penuh harap.
"Oh...sudah mulai sakit ya," ucap Dukun Beranak itu sambil mulutnya komat kamit membacakan sesuatu. Entah doa atau jampian, tak seorangpun tahu. Diusapnya perut wanita itu dengan penuh hikmat.
"Insya Allah menjelang subuh," lanjutnya.
Tak seorangpun menanyakan ucapannya, apalagi membantahnya. Kek Syamsi dan Nek Juni-pun tak bertanya, apalagi lelaki itu. Tak ada yang berani, mereka hanya tertegun sambil membaca doa.
"Anak bujang lagi...........," ucapnya tigabelas menit menjelang pukul lima, persis saat teriakan pertama sang bayi dilanjutkan tabuhan bedug dari mesjid di kampung itu.
"Alhamdulillah....semoga bapak tak kecewa karena bujang lagi.........," ucap wanita itu saat dahinya diusap oleh dukun beranak.
"Tentu tidak....semua ini berkah dari Allah. Wajib kita syukuri dengan penuh suka cita. Amanah kehidupan tiada bandingan, pembawa kegembiraan bagi kita di dunia," ujar kek Syamsi saat mengusap sang bayi beberapa menit selepas diazankannya ke kedua telinganya.
"Siapa rencana namanya?"
"Muhammad Alfathir El-Farouz".
"Waawwww....panjangnya, tak ada ciri khas orang Belitong. Ada banyak nama khas orang Melayu Belitong, mengapa tak mencari nama lain?" 
Tersenyum lelaki itu mendengar ucapan kek Syamsi. Tergambar jelas dalam pikiran bahwa kek Syamsi menginginkan nama-nama khas Belitong seperti Baharuddin, Kaharuddin, Izzuddin, Saridin, Syamsuddin, Kamruddin, atau nama lainnya yang berbau penegak keislaman, lelaki dengan segala kehormatan agama yang melekat seumur jiwa. Atau nama khas Belitong lainnya seperti Kulek, Kucun, Kuca, Kutun, Kusum, Derahip, Deraman, Deraup, Mahasip, Mahasim, ataupun Taok. 
"Pak, nama yang baru kuberikan tadi juga bagus, tetap bermakna baik dan menjunjung islam. Tak perlu bapak kecewa," disalaminya kek Syamsu, juga kek Kalam, dua lelaki yang selama ini selalu menjadi pendampingnya, mertua dan orang tua yang menjadi pembimbing kehidupan, lelaki yang telah menjadi orang tuanya karena sejak belasan tahun ia sudah kehilangan bapak yang meninggal dunia saat usianya masih remaja.  
"Okelah, tetap nama yang baik, kami setuju".
"Muhammad Alfathih El-Farouz, sang pemenang yang melanglang buana mencipta kebijakan dan pembelajaran di muka bumi, lelaki kebanggaan penutup duka, lelaki kebanggaan penutup Bujang Berlima : lima lelaki tiara tara, para bujang pembawa cerita," senyum ia membayangkan ramainya cerita di kala kelima bujangnya menjelang dewasa.
 
sumber gambar : ingatini.blogspot.com
Lima lelaki, lahir dari satu pohon yang sama, namun dengan jiwa yang berbeda. Perbedaan yang bukannya untuk dipertentangkan, perbedaan yang tentunya bukan untuk dipersamakan, perbedaan yang tentunya bukan untuk dikontradiksikan. Namun perbedaan yang menjadi kebanggaan, banyak perbedaan akan menjadi semakin banyak pemikiran, banyak perbedaan semakin memperindah kehidupan, dan makin banyak perbedaan akan menjadikan makin bermaknanya persamaan dan kesamaan. Bukan Pandawa Lima, karena mereka bukanlah para lelaki yang akan bertarung melawan para Kurawa. Mereka hanyalah Bujang Berlima, lima lelaki yang akan selalu memberi makna pada banyak cerita dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar