Sabtu pagi :
"Kudengar dirimu sekarang kembali rutin menulis di blogmu, beberapa kawan menceritakannya padaku. Aku baru tahu pagi ini, namun belum sempat membukanya, maklum baru pulang dari hutan. Jaga hutan sekarang kian berat, bukan hanya illegal logging, namun ancaman pembakaran," ujar seorang teman.
"Betul, selama Juni kuputuskan untuk menggairahkan kembali semangat menulisku, sekalian menantang diri apakah mampu meninggalkan zona nyaman selama ini : hanya menulis di kala mood sedang baik, hanya bersyair di kala hati sedang letih, dan hanya menarikan rasa di kala degup jantung tak lagi sama," jawabku.
***
Sabtu siang :
"Pak, sudah kubaca beberapa tulisannya di blog, inspiratif, rangkaian kata yang nyaris sulit diprediksi, unpredictable. Repetisi yang membuatku kian penasaran, bukan hanya tentang isinya, namun juga tentang gejolak rasa saat Bapak menuliskannya," seorang rekan kerja menuturkan dengan wajah serius, nyata.
Kujawab,"Jangan kau tanya gejolak rasa saat kutuliskan rangkaian kata itu, karena setiap kali menulis diriku sendiri tak pernah tahu ke arah mana jari ini bergerak, ke logika mana otak ini akan menarikan katanya, dan ke ujung mana hati ini akan menghidupkan rangkaian kata-katanya. Semua bergerak, sesuai dengan apa yang diinginkannya".
****
Sabtu sore :
"Dulu aku pernah melakoni beberapa waktu sepertimu, menulis cerita pendek, membuat novel, dan menulis blog. Tak sampai setahun, padam total. Sebagian besar karyaku, utamanya di blog diambil orang lain, dicopy-paste, dilupakannya tombol edit. Flash disk sahabat sempurna mengambil folder novel yang baru selesai ditulis. Flash disk kupatahkan, persahabatanpun patah hingga kini, tiga tahun!," ujar sahabat yang lain, wanita berambut panjang, cantik, manis, ekspresif!
"Dulu akupun pernah patah arang, bahkan banyak tulisan di blog yang ku-delete, lebur jadi debu. Tiga tahun jatuh, tak mampu bangun, hingga di awal Juni, hari ketiga, kursor diarahkan Tuhan ke tweet seorang sahabat, #NulisRandom2015".
"Tak khawatir karyamu diambil orang? Copy, paste, no edit? Aku nggak mau, " ucapnya tak kalah ekspresif dibandingkan sebelumnya.
"Ada juga sih, namun mulai mampu kutaklukkan rasaku yang bergayut dalam selama tiga tahun ini. Hanya orang yang tak bermoral yang begitu, namun di dunia ini tentu lebih banyak orang baik dibandingkan dengan orang yang tak santun.
Lagipula, Tuhan telah mengaruniakan ketajaman pikiran, olah rasa, dan keteguhan jiwa pada kita, hingga sebagian rangkaian kalimat kita menjadi bernyawa. Mengapa kita harus menguburkan semuanya hanya karena kekhawatiran atas kemungkinan diambil, dibajak, atau malah di-publish dan diakui sebagai karya kata dan karya rasa mereka?".
****
Sabtu malam :
Satu tulisan kembali meluncur, jelang pergantian malam, taklukkan mata yang mulai terpejam. Buka, sholat magrib, mengaji, sholat isya, lalu tarawih sendiri di rumah, cukup melelahkan, namun tak mampu kalahkan keinginan untuk menjawab tantangan diri.
Berbagilah, maka Tuhan akan memeluk rasamu.
Menulislah, maka abstrakmu mewujudkan bentuk nyatanya.
Maka berbahagialah.....
Karena dirimu telah menuju keabadian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar