Hari pertama :
"Debu itu mulai beterbangan, pelan namun pasti menyingkir dari hadapan, saksikan diri menumpahkan hati, jauhkan sanksi tambatkan nurani".
***
Begitulah kalimat yang empat tahun lalu kubuat saat Ramadhan mulai dijalani. Kalimat demi kalimat yang pada akhirnya merangkai menjadi sebuah buku kehidupan "Syair Keranjang Pempang".
Kini, empat tahun telah berlalu. Ramadhan demi ramadhan telah kita lalui. Lapar demi lapar juga tak kalah seru mempertandingkan diri, karena ia wujudkan nafsu yang bila membesar kian tak mampu dihambakan.
Akan halnya perjalanan diri, ibarat langkah satu demi satu dijejakkan, begitu pulalah ramadhan demi ramadhan ditapakkan. Seperti yang dulu pernah kulakukan, satu demi satu Syair Ramadhan tercipta di setiap waktu, temankan lapar dan kekangan nafsu diri, akhirnya berangkai menjadi nyanyian diri sepanjang hari.
Begitu pulalah hendaknya kehidupan kita hari ini dan esok. Tak pernah ada hal yang berat, karena kita telah memudahkannya dengan pikiran. Bukankah puasa juga berarti mengelola pikiran? Bila pikiran dikelola dengan benar maka akan menentukan apa yang kita perbuat, dan apa yang kita perbuat menentukan apa yang kita dapatkan?. Juga bukankah akhir juga berarti awal, dan pikiran selalu diawali dengan hati. Puasa-lah yang akan melatih kita.
Pada akhirnya, banyak debu kehidupan yang harus kita bersihkan. Puasa akan memastikan banyak debu itu beterbangan menjauhi diri, untuk kemudian memastikan diri kita terus dan tetap membersihkan diri dari banyak anasir negatif yang menyelimuti diri. Semoga......amien.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar