Rabu, 17 Juni 2015

Happy Ramadhan : Semangkuk Sup Kegembiraan

Hujan.....
Bagi kami,  hujan adalah keberkahan. Bagi kami hujan adalah saatnya doa dipanjatkan. Bagi kami pula hujan adalah kelimpahruahan, the real abundance.

Di jelang mentari menutup hari, menampilkan hilal yang kami impikan, serentetan tetes melimpah ruah membasahi bumi. Sore ini, kenikmatan kian terasa,  meski sebagian tubuh terasa lelah karena lebih dari tigaratus kilometer dijalani, lima jam waktu dilewati. Sore ini, panas bumi beralih sejuk menikmat rasa,  tetesan demi tetesan kian menambah makna.

Bagi kami, sore ini adalah kegembiraan, tidak hanya kini, namun sejak puluhan tahun berlalu. Meski kampung kami kala itu bukanlah desa santri, namun tanah Belitong selalu menjadi tanah Melayu yang selalu bergembira menyambut Ramadhan.

Selalu banyak yang kami gembirakan di setiap Ramadhan,  tentu bukan hanya selalu diakhiri lebaran ketupat yang membahagiakan,  atau baju lebaran yang menyenangkan, juga beberapa buah koin seratus rupiah, namun lebih dari hal-hal ini.

Awal Ramadhan seperti ini, sore yang sama seperti sore puluhan tahun lalu, suara ayam itu masih nyata. Semangkuk sup ayam kampung, dari ayam yang telah dipelihara sejak selepas lebaran setahun sebelumnya,  jelas menu sahur pertama yang tak terbandingkan dengan apapun. Tak hanya ayam, beberapa potongan kentang, yang biasanya hanya kami dapatkan saat ada acara besar pernikahan orang kampung ternama, selalu dapat kami nikmati di sahur pertama ini. Borjuis kelas satu, begitulah yang sering diucapkan abangku. 

Kini, meski kentang tak tandai keborjuisan, untuk menikmati sup ayam tak perlu lagi kta bersusah payah memelihara ayam sejak selepas lebaran tahun sebelumnya,  tentu sahur pertama adalah kegembiraan.  Bukan hanya kegembiraan karena selama Ramadhan sebuah keluarga nampak utuh di meja makan,  atau karena Ramadhan selalu diakhiri dengan perayaan kegembiraan melawan pertarungan sepanjang bulan, namun juga karena Ramadhan adalah harapan atas banyak perjalanan kehidupan yang masih banyak debu dan lobang di dalam pikiran, perasaan, hati, dan perbuatan.

Selamat datang Ramadhan,  selamat datang kegembiraan,  meski semangkuk sup ayam mungkin tak kami nikmati di sahur pertama ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar