Minggu, 19 Agustus 2012

Ramadhan


Aku adalah kerinduan bagi insan yang mengamalkannya
Aku adalah kelimpahan bagi insan yang mengisinya
Aku adalah kehidupan bagi insan yang memaknainya
Dan Aku adalah jalan kenikmatan menuju keabadian di hadapan Sang Maha Pencipta

Tiga puluh hari diriku membuka diri
Tiga puluh hari diriku menghamparkan diri
Tiga puluh hari diriku menjaga perut dan mulutmu
Juga lidah, pikiran, apalagi hatimu

Bagi orang beriman, diriku adalah kekasih tiada bandingan
Bagi orang beriman, diriku adalah kehidupan penuh kenikmatan
Bagi orang beriman, diriku adalah alasan untuk menaklukkan sang nafsu perkasa
Dan bagi orang beriman, diriku adalah kemenangan di akhir cerita

Untuk menaklukkan airmata
Untuk menaklukkan syak wasangka
Untuk menaklukkan pikiran yang menggelora
Dan untuk menaklukkan liarnya hatimu yang sulit kau belenggu

Sayangnya....
Masih banyak darimu yang tak mengharapkan kehadiranku
Masih banyak darimu yang tak merindukan diriku
Masih banyak darimu yang berteriak riang saat diriku harus berpamitan
Demi sebuah kata kemenangan di akhir Ramadhan

Kemenangan yang sesungguhnya harus terus kau pertanyakan
Kemenangan yang sesungguhnya harus terus kau tulis beribu warna tinta
Kemenangan yang sesungguhnya masih harus kau perhitungkan
Karena kemenangan hakiki itu hanyalah dimiliki oleh mereka yang berjuang sepenuh hati

sumber : sidomi.com
Tetesan airmata itu kini sangat dekat
Tetesan airmata itu kini mulai tak terhindarkan
Tetesan airmata itu kini mulai tak terhapuskan
Ia akan terus mengalir mengiringi duka diri di jelang hari



Kemenangankah yang telah kau raih di akhir cerita?
Ataukah hanya lapar dan dahaga saja?
Jangan-jangan hanya kau kira dirimu telah menang

Karena hari-harimu sepanjang bulan tak pernah mampu menaklukkan diri
Karena hari-harimu sepanjang minggu hanya diisi taburan kata yang ambigu
Karena hari-harimu sepanjang badan hanya meratapi dunia yang tak mampu kau taklukkan?

Apapun isi perut, pikiran, juga hatimu
Aku tetap akan berlalu
Aku tetap akan pergi
Aku tetap akan melangkah mantap memenuhi takdirku

Takdir yang juga telah kau miliki saat dirimu sedang berhadapan dengan Sang Pemilik Nyawa
Takdir yang juga telah kau ijab kabulkan dengan Sang Maha Pencipta saat itu

Jauh sebelum dirimu hadir ke dunia ini
Jauh sebelum tangisanmu memenuhi ruang waktu dalam tangis rindu sang ibu
Jauh sebelum hawa nafsumu memenuhi seluruh sendi hidupmu hingga kau mulai mengabaikan perjanjianmu

Aku tetap akan pergi
Hanya ujung waktu yang akan menghentikanku
Langkahku tetap akan memenuhi waktu yang ada
Jauh lebih panjang dari waktu yang kau miliki
Jauh lebih bermakna dari waktu yang telah diberikan padamu

Karena aku adalah Ramadhan, ibu dari semua bulan
Tempatmu menunjukkan bakti pada Sang Maha Pencipta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar