Aku adalah
kerinduan bagi insan yang mengamalkannya
Aku adalah
kelimpahan bagi insan yang mengisinya
Aku adalah
kehidupan bagi insan yang memaknainya
Dan Aku adalah
jalan kenikmatan menuju keabadian di hadapan Sang Maha Pencipta
Tiga puluh hari
diriku membuka diri
Tiga puluh hari
diriku menghamparkan diri
Tiga puluh hari
diriku menjaga perut dan mulutmu
Juga lidah,
pikiran, apalagi hatimu
Bagi orang
beriman, diriku adalah kekasih tiada bandingan
Bagi orang
beriman, diriku adalah kehidupan penuh kenikmatan
Bagi orang
beriman, diriku adalah alasan untuk menaklukkan sang nafsu perkasa
Dan bagi orang
beriman, diriku adalah kemenangan di akhir cerita
Untuk menaklukkan
airmata
Untuk menaklukkan
syak wasangka
Untuk menaklukkan
pikiran yang menggelora
Dan untuk menaklukkan
liarnya hatimu yang sulit kau belenggu
Sayangnya....
Masih banyak
darimu yang tak mengharapkan kehadiranku
Masih banyak
darimu yang tak merindukan diriku
Masih banyak
darimu yang berteriak riang saat diriku harus berpamitan
Demi sebuah kata
kemenangan di akhir Ramadhan
Kemenangan yang
sesungguhnya harus terus kau pertanyakan
Kemenangan yang
sesungguhnya harus terus kau tulis beribu warna tinta
Kemenangan yang
sesungguhnya masih harus kau perhitungkan
Karena kemenangan
hakiki itu hanyalah dimiliki oleh mereka yang berjuang sepenuh hati
![]() |
| sumber : sidomi.com |
Tetesan airmata
itu kini sangat dekat
Tetesan airmata
itu kini mulai tak terhindarkan
Tetesan airmata
itu kini mulai tak terhapuskan
Ia akan terus
mengalir mengiringi duka diri di jelang hari
Kemenangankah
yang telah kau raih di akhir cerita?
Ataukah hanya
lapar dan dahaga saja?
Jangan-jangan
hanya kau kira dirimu telah menang
Karena
hari-harimu sepanjang bulan tak pernah mampu menaklukkan diri
Karena
hari-harimu sepanjang minggu hanya diisi taburan kata yang ambigu
Karena
hari-harimu sepanjang badan hanya meratapi dunia yang tak mampu kau taklukkan?
Apapun isi perut,
pikiran, juga hatimu
Aku tetap akan
berlalu
Aku tetap akan
pergi
Aku tetap akan
melangkah mantap memenuhi takdirku
Takdir yang juga
telah kau miliki saat dirimu sedang berhadapan dengan Sang Pemilik Nyawa
Takdir yang juga
telah kau ijab kabulkan dengan Sang Maha Pencipta saat itu
Jauh sebelum
dirimu hadir ke dunia ini
Jauh sebelum
tangisanmu memenuhi ruang waktu dalam tangis rindu sang ibu
Jauh sebelum hawa
nafsumu memenuhi seluruh sendi hidupmu hingga kau mulai mengabaikan
perjanjianmu
Aku tetap akan
pergi
Hanya ujung waktu
yang akan menghentikanku
Langkahku tetap
akan memenuhi waktu yang ada
Jauh lebih
panjang dari waktu yang kau miliki
Jauh lebih bermakna
dari waktu yang telah diberikan padamu
Karena aku adalah
Ramadhan, ibu dari semua bulan
Tempatmu
menunjukkan bakti pada Sang Maha Pencipta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar