Minggu, 10 Juni 2012

Beda Generasi, Beda Keranjang Pempang


Siang ini, diriku terhenyak, sangat !
Di saat moment gathering "One Day with LIA", sebuah renungan tiba-tiba muncul saat melihat mereka, anak-anak di level EC menampilkan performancenya. Bukan indahnya performance mereka yang membuatku terhenyak, namun penguasaan bahasa yang sangat kukagumi.

Pikiranku teringat pada masa-masa saat masih seusia mereka, jangankan berbahasa Inggris, berbahasa Indonesia saja masih sulit melafazkannya meskipun kami sesungguhnya keturunan Melayu Belitong yang notabene banyak menjadi akar rumput bahasa Indonesia. Jelas tak akan lebih sulit dalam penguasaan bahasa dibandingkan dengan suku lainnya.

Di usia seperti mereka, kami yang tinggal di kampung harus berjuang mengisi perut melawan kebodohan. Tak ada yang namanya les, pendidikan dasarpun sudah cukup kami nikmati alakadarnya meski belumlah gratis. Sering uang SPP yang jumlah kurang dari tigaratus rupiah harus kami gantikan dengan menjual dua kilogram beras, itupun kalau ada. Bila belum ada, maka ubi kayulah yang harus kami jual, atau diolah menjadi jajanan kampung sederhana : Talam menggale alias talam ubi kayu. 

Sepulang sekolah, keranjang pempang jelas menjadi menu wajib. Keranjang pempang ini diikatkan di sadel belakang sepeda, bukanlah sepeda yang layak karena hanya sepeda "terundol". Nyaris hanya ada dua roda, pedal, rantai, dan batang besinya saja. Kadang freewellnya harus dipukul dulu berkali-kali agar dapat dikayuh. Jauh dari layak, namun yang penting sepedanya masih bisa jalan!

Kini, anak seusiaku yang kala itu terus berjuang membela hidup dan meraih impian, telah berjuang dengan cara yang berbeda. Keranjang pempang telah berubah menjadi sebuah tas sandang, ubi kayu dan hasil bumi lainnya telah berubah menjadi setumpuk buku wajib dan buku les, sepatu "cokhai" telah berubah menjadi sepatu fashion berharga selangit, bahasa kampung telah berubah menjadi bahasa Inggris, dan kompetisi berbasis alam telah berubah menjadi kompetisi berbasis mall. Banyak yang berubah, namun yang benar-benar berubah adalah perubahan itu sendiri. Siaplah kita punah bila tidak berubah!

Banyak pelajaran dan renungan yang ingin kutuliskan, gatal jari-jari ini ingin menumpahkannya. Namun harus kutunda karena riuhan tepuk tangan di mall ini sungguh mengganggu konsentrasiku yang sesungguhnya butuh keheningan saat menulis. 

Namun satu hal yang kumaknai, beda generasi jelas beda keranjang pempangnya. Berbeda, namun satu hal yang sama : Meraih kehidupan yang lebih baik itulah tujuannya.

Indahnya Syair Keranjang Pempang, alhamdulillah........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar