Segala sesuatu di dunia ini selalu ada awal dan akan ada
akhir. Malam akan diakhiri oleh siang, gelap akan diselesaikan oleh terang, dan
masalah selalu diganti dengan penyelesaian. Gemuruh berganti hening, kilatan
berakhir hujan, keputusasaan berganti kegembiraan, impian digantikan kenyataan.
Siang ini, baru saja aku pulang dari TK Kartini Gantong.
Telah setahun jalanan sejauh hampir enam kilometer kulalui setiap harinya,
pergi setiap pagi dengan kik Syamsu, dan pulangnya dengan bang Farabi dan
kadang bersama umak. Pagi yang indah selalu kulewati, teriakan yang hebat
selalu siap kuperdengarkan, tali-tali laso sang koboi selalu dilemparkan,
karena diriku adalah sang koboi yang sedang duduk di atas kuda tunggangan favorit
tahun tujuhpuluhan; motor kik Syamsu berwarna merah penuh menyala, dan duduk di
tangki bensin laksana sang penunggang kuda tiada tara!
******
Hanya butuh lima belas menit untuk menghabiskan sepiring
nasi di atas piring kaleng berwarna terang dan bergambar tiga buah bunga mawar
di setiap pinggirannya, ikan goreng sepotongpun tumpas bablas hingga tiada bersisa
kecuali tulang tengahnya yang besar dan menusuk diri!
Di sebelahku, abang tak kalah lahapnya. Lima belas menit
ia lewati untuk menghabiskan dua piring nasi, namun hanya dengan lauk setengah
potongan ekor ikan goreng. Sungguh berbeda denganku, beda nasi dan beda ikan
goreng. Namun kami tetaplah sama; selalu bersemangat bila makan dan selalu
bersyukur atas nasi yang telah dihidangkan hari ini.
“Mak....aku pergi dulu,” ujarnya
setengah jam kemudian, berpamitan pada Umak karena ia kembali harus menyusuri jalan
yang sama seperti tadi pagi; bersepeda sejauh hampir sejauh enam kilometer lagi
untuk bersekolah di SD Muhammadiyah Gantong.
“Ya, hati-hati di jalan. Jalan lupa berdoa, belajar yang
rajin”.
“Ya mak...”
Aku tahu, setiap hari kalimat yang sama selalu diucapkan
oleh mereka berdua, Abang berpamitan dan Umak berpesan. Sungguh inilah atmosfir
keseharian yang menjadi rutinitas tiada henti. Bukan rutinitas yang
membosankan, karena ini adalah rutinitas dari sebuah tatanan tatakrama seorang
anak pada orang tua, dan rutinitas pesan sekaligus doa dari orang tua pada sang
anak; rutinitas demi keselamatan hidup di dunia maupun di akhirat kelak.
Siang itu berlalu seperti biasanya, tak ada yang spesial
terjadi. Semuanya berjalan normal, diriku bermain dengan Badin, Cunan, Cuai,
Cumi, Cunok, Cuam, Teri, Titik, Itin, Arjo, Mitak, dan Pian. Mandi di aik kik
Canan, adu buah karet, main kelereng, benteng-bentengan, dan petak umpet;
permainan tradisional yang mungkin suatu saat tinggal cerita tuturan dari mulut
ke mulut tanpa pernah dikenal oleh generasi baru.
![]() |
| sumber : islamtimes.org |
******

Tidak ada komentar:
Posting Komentar