Selasa, 12 Juni 2012

Feodalisme Tak Terbantahkan !



Segala sesuatu di dunia ini selalu ada awal dan akan ada akhir. Malam akan diakhiri oleh siang, gelap akan diselesaikan oleh terang, dan masalah selalu diganti dengan penyelesaian. Gemuruh berganti hening, kilatan berakhir hujan, keputusasaan berganti kegembiraan, impian digantikan kenyataan.

Siang ini, baru saja aku pulang dari TK Kartini Gantong. Telah setahun jalanan sejauh hampir enam kilometer kulalui setiap harinya, pergi setiap pagi dengan kik Syamsu, dan pulangnya dengan bang Farabi dan kadang bersama umak. Pagi yang indah selalu kulewati, teriakan yang hebat selalu siap kuperdengarkan, tali-tali laso sang koboi selalu dilemparkan, karena diriku adalah sang koboi yang sedang duduk di atas kuda tunggangan favorit tahun tujuhpuluhan; motor kik Syamsu berwarna merah penuh menyala, dan duduk di tangki bensin laksana sang penunggang kuda tiada tara!

******

Hanya butuh lima belas menit untuk menghabiskan sepiring nasi di atas piring kaleng berwarna terang dan bergambar tiga buah bunga mawar di setiap pinggirannya, ikan goreng sepotongpun tumpas bablas hingga tiada bersisa kecuali tulang tengahnya yang besar dan menusuk diri!

Di sebelahku, abang tak kalah lahapnya. Lima belas menit ia lewati untuk menghabiskan dua piring nasi, namun hanya dengan lauk setengah potongan ekor ikan goreng. Sungguh berbeda denganku, beda nasi dan beda ikan goreng. Namun kami tetaplah sama; selalu bersemangat bila makan dan selalu bersyukur atas nasi yang telah dihidangkan hari ini.

“Mak....aku pergi dulu,” ujarnya setengah jam kemudian, berpamitan pada Umak karena ia kembali harus menyusuri jalan yang sama seperti tadi pagi; bersepeda sejauh hampir sejauh enam kilometer lagi untuk bersekolah di SD Muhammadiyah Gantong.

“Ya, hati-hati di jalan. Jalan lupa berdoa, belajar yang rajin”.
“Ya mak...”

Aku tahu, setiap hari kalimat yang sama selalu diucapkan oleh mereka berdua, Abang berpamitan dan Umak berpesan. Sungguh inilah atmosfir keseharian yang menjadi rutinitas tiada henti. Bukan rutinitas yang membosankan, karena ini adalah rutinitas dari sebuah tatanan tatakrama seorang anak pada orang tua, dan rutinitas pesan sekaligus doa dari orang tua pada sang anak; rutinitas demi keselamatan hidup di dunia maupun di akhirat kelak.

Siang itu berlalu seperti biasanya, tak ada yang spesial terjadi. Semuanya berjalan normal, diriku bermain dengan Badin, Cunan, Cuai, Cumi, Cunok, Cuam, Teri, Titik, Itin, Arjo, Mitak, dan Pian. Mandi di aik kik Canan, adu buah karet, main kelereng, benteng-bentengan, dan petak umpet; permainan tradisional yang mungkin suatu saat tinggal cerita tuturan dari mulut ke mulut tanpa pernah dikenal oleh generasi baru.

sumber : islamtimes.org
Kemajuan memang seperti pisau bermata dua, tradisi lama bisa terlupakan dengan tradisi baru yang penuh kegamangan. Sosialisasi dan kegotongroyongan akan tergantikan dengan individualisme yang kadang membutakan. Kepedulian berganti keegoisan personal yang kadang tiada bandingan. Bahkan manusia yang semula adalah asset kemudian sering beralih menjadi omset. Eksploitasi demi eksploitasi, modernisasi demi modernisasi, yang kadang tiada batas dan tiada aturan. Homo homini socius segera bertransformasi diri menjadi Homo homini lupus

******

Tidak ada komentar:

Posting Komentar