Kamis, 22 November 2012

Episode Baru Telah Dimulai

Sudah berapa tahun usiamu?
Tahukah kau kapan dirimu akan meninggal?
Seandainya dirimu mati hari ini, adakah yang mengenangmu?
Apakah hidupmu akan dikenang orang setelah dirimu meninggal?
Adakah jejak hidupmu memang sudah ada hingga dikenang orang?
Mengapa dirimu tak meninggal jejak untuk orang banyak?
Sudahkah waktumu yang singkat ini telah dimanfaatkan untuk kehidupan banyak orang?
Tidakkah dirimu akan menyesali hidupmu tak berjejak ini?
Sudahkah kau yakini bahwa dirimu akan dikenang?
Yakinkah?
Sungguh?
Benar?
??????
????????
??????????

*******

Puluhan pertanyaan tiba-tiba muncul di keheningan malam ini. Tak mampu kujawab satupun, kecuali pertanyaan pertama : usiaku sudah empat puluh tahun dan belum meninggalkan jejak apapun. Selebihnya jawabannya gelap, jauh lebih gelap dari malam ini.

Bulan sabit malam ketujuh baru saja kembali ke peristirahatannya, ia kini benar-benar telah meninggalkan jejak. Memberikan kerinduan bagi beberapa penjaga malam yang baru saja memukulkan pipa besi ke tiang listrik. Jejak yang sesungguhnya akan terus dilakonkannya esok malam, kembali menerangi semesta alam dengan kegembiraan. Kurasa ia memang sangat gembira karena setiap malam diberikan keleluasaan oleh Sang Maha Pengatur untuk kembali menunaikan tugasnya, terang benderang adalah hakikat hidupnya.

Duapuluh delapan hari siklus hidupnya; lahir, menjejak langit, menawarkan senyum dengan sebilah sabit, lalu membesar menjadi dewasa, hingga mencapai kegembiraan dalam kematangan jiwa berbentuk bulat sempurna, akhirnya kembali mengecil, dengan mata yang semakin menyipit, dan menutup diri dengan memejamkan mata sepenuh jiwa. Menghadap Sang Maha Pemilik memohon untuk dilahirkan kembali demi tunaikan kegembiraan esok hari. Ia hanya hening semalam saja, mengumpulkan energi sepenuh jiwa, untuk lahir kembali esok hari sebagai wujud yang sama : bulan baru!

Hening, diam, juga terhenyak!
Tiupan angin malam di depan rumahku nyaris tak kurasakan samasekali, tak ada gemeretuk gigi geligi meski penghujung angin timur laut itu akan segera berganti menjadi angin tenggara yang sosoknya tenang, namun kadang segera bergolak tanpa diduga. Diriku yang duduk di sekeping papan selebar delapan belas sentimeter dan panjangnya tak lebih dari duaratus delapan puluh lima sentimeter, tetap hening. Teguran sang penjaga malam dari pos kamling di samping kanan rumahpun tak menarik perhatianku untuk menjawabnya, bukan karena labirin telingaku sudah mulai mengalami degenerasi karena sedikit namun pasti telah diambil kembali oleh Sang Maha Pemilik, tapi karena tetesan airmata tiba-tiba tak mampu kubendung samasekali!

Kik Syamsu, kik Kambut, Kik Canan, Kik Dukun Sumang, Kik Dukun Mahamid, Kik Dinsang, kik Mahidin, Kik Derahip, Kik Deraup, Kik Lepok, Kik Hasyim, Kik Muhie, Kik Samim, Pak Long Nunok, dan Pak Long Awet sekilas wajahnya muncul di hadapanku. Jelas dan nyata, meski sesungguhnya beberapa dari mereka telah meninggalkan dunia ini lebih dari duapuluh tahun yang lalu, jauh sebelum diriku merantau ke tanah kejayaan ; Bumi Sriwijaya.

Cik Usa, Cik Denan, Cik Muhammad, Cik Bujang, Cik Rahimin, Cik Nuyam, Bang Juli, Bang Mingguk, Bang Wandi, Bang Mili, Mak Ajong, dan Cik Duno, kilasan wajah mereka juga muncul selanjutnya. Tersenyum kulihat beberapa dari mereka, bahkan ada yang terasa menepuk bahuku seolah menguatkanku untuk menggoreskan jejak hidup. Beberapa dari mereka juga sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, namun jejak hidup mereka sepertinya akan segera lenyap beberapa tahun kemudian. Hanya jadi cerita saja, hingga pelan namun pasti kemudian akan lenyap di telan angin. Mereka semua akhirnya akan menjadi debu, benar-benar lenyap dari pandangan manusia!

Bu Nyaik, Bu Minah, Bu Seni, Bu Soleha, Bu Caroline, Bu Rosita, Bu Djenni, Bu Suryani, Bu Kartini, Pak Mukhlis, Pak Zahawi, Pak Supanto, Pak Zulkifli, Pak Muchtar, Pak Silaban, Pak Bambang, Pak Priyanto, Pak Syafei, Pak Sigit, dan banyak guruku yang lain juga menampakkan wajahnya saat ini. Kerinduan itu makin dekat, lebih dari duapuluh tahun diriku tak berjumpa dengan mereka semua. Entahlah, apakah beberapa dari mereka masih dapat kutemui di dalam kehidupan ini, tak tahulah. Namun jejaknya masih kurasakan, sayang akhirnya beberapa tahun mendatang akan hilang ditelan waktu karena makin tak dituturkan oleh siapapun.

Cumik, Cuam, Cuai, Cunok, Cunan, Caus, Teri, Titiek, Damong, Syukri, Gujo, Gudut, Kujum, Mitak, Ali, Indek, dan Hendri; mereka semua kawan kecilku yang sekarang sedang berjuang menjejak hidup, lebih tepat bertarung hidup menghadapi kerasnya kehidupan yang tak pernah melunak. Bahkan nyaris tak sempat berpikir untuk meninggalkan jejak abadi kehidupan, mereka juga akan punah menjadi debu, tak kan ada cerita apapun tentang mereka beberapa generasi kemudian, benar-benar lenyap!

Bapak, Umak, Bang Fanani, Bang Fatani, Bang Farabi, Bang Faridz, Mita, Pak Ute dan Mak Ute. Mereka semua orang terdekat dalam hidupku, lingkar dalam! Tak mampu kujawab pertanyaanku akankah mereka juga menjadi debu beberapa tahun setelah mereka semua nantinya meninggalkan dunia? Akankah mereka mirip seperti tuturan yang sering disampaikan Bapak dan Umak tentang adikku Aziar yang hanya diberi izin oleh Sang Maha Pemilik seminggu saja di dunia ini, untuk kemudian memenuhi janjinya menghadapNya meski belum pernah sedikitpun melihat indahnya rumah kami di kampung Batu Penyu. Sang Maut tak sedikitpun memberi waktu baginya untuk pulang ke rumah meski hanya sedetik, adikku telah memenuhi janjinya di Rumah Sakit PT. Timah di Manggar, tempat ia dilahirkan sekaligus menutup mata.

sumber : mutiaradidasarlautan.blogspot.com
Kenangan, pada akhirnya semua hanya menjadi kenangan hidup. Baik dan buruk pada akhirnya akan menguap juga selepas lelahnya tuturan disampaikan oleh generasi terdekat. Kebaikan sering hanya bertahan beberapa tahun, namun keburukan sering bertahan lebih lama. Sayang, hanya kenangan dari mulut ke mulut. Mereka yang arif, bertutur dengan banyak kearifan lokal, akhirnya lenyap ditelan waktu. Tak ada jejak sejarah pemikiran-pemikiran mereka yang luar biasa yang mampu bertahan lama, jauh dari kata lestari. Meskipun tuturan kearifan lokal mereka sesungguhnya ada tuturan kehidupan yang sesungguhnya, tuntunan kehidupan yang seharusnya dijalani oleh kita selama di dunia.

Diam, makin diam.......
Nyanyian jangkrik di sudut pagar rumah kembali berdenyit. Beberapa kecoa berlarian saat mendengar kibasan seekor tikus yang berlari di sisi kolam ikan berlapis terbal plastik itu. Bergolak riak airnya, ikan gurami sebesar telapak tanganku rupanya tak ikhlas keheningan malamnya terusik oleh sang tikus. Protesnya kali ini telah mengagetkan sang tikus untuk segera berlari, menyingkir jauh dari keheningan tengah malam yang makin diciptakan. Keheningan berbalut kegelapan, makin membuatku larut dalam renungan kehidupan.

Akankah diriku juga seperti mereka? Akankah akhirnya jejak kehidupanku menjadi debu dan akhirnya hilang memenuhi atmosfir? Akankah diriku hanya diingat dalam sebongkah batu nisan bertuliskan namaku, yang akhirnya juga akan hilang beberapa generasi kemudian karena tergusur atau karena tak dirawat oleh siapapun lagi? Akankah???

Tidaaaakkkkkkkkk........!!!
Tak kan pernah itu terjadi. Diriku tak mau lenyap tanpa meninggalkan jejak kehidupan. Dirikupun juga tak boleh membiarkan mereka yang telah banyak bertutur kearifan lokal itu juga lenyap. Mereka harus kuhidupkan, tuturannya harus kugoreskan, dan semangat kehidupannya harus tetap diprasastikan. Ada generasi hari ini karena ada generasi sebelumnya, ada kehidupan yang indah hari ini juga karena ada kehidupan penuh perjuangan sebelumnya, dan ada kejayaan hari ini karena ada kekuatan lahir dan bathin sebelumnya.

Keheningan itu kini mencapai puncaknya, sebuah jawaban atas kemirisan hidup itu kini mendapat jawaban. Sebuah buku, adalah jawaban sesungguhnya. Selama buku itu masih ada, selama itu pula jejak-jejak kehidupan diriku dan mereka yang kututurkan akan tetap hidup. Kearifan lokal, pemikiran-pemikiran pragmatis kehidupan yang mengajarkan bagaimana seharusnya kita hidup, dan semangat-semangat kehidupan berdasarkan tuntunan kehidupan, jelaslah sesuatu yang tak perlu direkayasa. Hiduplah sebagaimana kita harus hidup, tuturkan sebagaimana harus kita tuturkan, maknai sebagaimana harus kita maknai, dan kuatkan sebagaimana harus kita kuatkan!

Sesak nafas di dada itu kini mulai terasa lega, beban itu kini mulai kulepaskan satu persatu, goresan demi goresan itu kini mulai menjadi rangkaian tuturan dalam beberapa halaman kehidupan yang makin nyata. Mereka semua mulai kuhidupkan dengan caraku, berbalut kearifan lokal yang kuangkat dari negeri Belitong.
Hanya butuh keheningan, lalu refleksi diri, dan akhirnya satu keputusan bulat dan tak terbantahkan. Empat puluh tahun usiaku malam ini, terlalu lama waktuku untuk menemukan jawaban atas banyak pertanyaan kehidupan selama ini. Hidup itu sesungguhnya abadi, pemikiran-pemikiran sesungguhnya abadi, kearifan-kearifan lokal juga abadi, hanya cara mengabadikannya saja yang berbeda. Diriku sudah memutuskan untuk menjadikan semuanya abadi lewat banyak tulisan, yang akhirnya kuharapkan akan menjadi sebuah buku.

Pukul dua kurang lima menit, tengah malam ternyata sudah kulewati. Keheningan mencapai titik kulminasinya. Basah beberapa anggota tubuhku, wudhu itu kini membuka pikiran dan hatiku, dan tahajjud menguatkannya. Rangkaian huruf demi huruf terangkai menjadi kata, kata berangkai menjadi kalimat, dan kalimat berteman menjadi tuturan. Beberapa kali tuturan berulang menjadi repetisi, makin menguatkan dan makin menegaskan makna yang ditasbihkan.

Alinea demi alinea, gejolak pikiran dan hati kini telah menyatu bersama jari-jari yang otomatis mengungkapkan diri. Mereka kini telah menjadi satu membentuk sinergi kehidupan yang harmonis, hadir dari dalam diri, alam bawah sadar kini makin bernyanyi. Trance!

Beduk subuh, jarum jam pendek berada di antara angka empat dan lima, sedangkan jarum panjang baru saja bergeser dua garis kecil dari angka enam; Setengah lima lewat dua menit. Delapan halaman telah kutuliskan, airmata tak terasa menetes, sebuah sujud syukur kulakukan. Kekuatan itu kini benar-benar nyata. Pikiran, hati, jiwa, dan seluruh anggota tubuh telah menyatu menguakkan makna. Diriku ternyata hanya butuh momentum kehidupan untuk mewujudkannya, dan kini semuanya sudah ada dan nyata!

Langkah pasti kuayunkan, selanjutnya sudah menjadi rencana Sang Maha Perencana. Ia sebaik-baik Perencana, diriku cukup menggoreskannya saja tanpa perlu banyak bertanya mencari jawaban.

Bismillah......

Sabtu, 25 Agustus 2012

Hening Diri


Banyak tuturan tercipta dalam keheningan
Banyak keindahan tercipta dalam keheningan
Banyak makna tercipta dalam keheningan
Karena keheningan adalah keindahan akan makna kehidupan yang terhampar

Penulis dengan goresannya, penyair dengan puisinya, dan penutur dengan ucapannya. Tiga hal ini menjadi makin indah bila digabungkan menjadi satu; puisi yang bertutur tentang goresan kehidupan. Kehidupan yang akan makin bermakna dalam banyak sisi perjalanan diri. Tak banyak, juga tak panjang, namun jelas akan bermakna dalam bagi beberapa orang yang berpikir dan memiliki nilai rasa yang dalam.

Beberapa hari terakhir selepas Idul Fitri di tahun ini, sebuah buku yang sangat menggugah cukup menghentak alam bawah sadarku. Satu rangkaian kalimat di dalamnya mengatakan begini :

Lihatlah orang-orang disana!
Sibuk, tapi tidak mendapat apa-apa
Beriman, tetapi tidak aman
Beribadah, tetapi tidak berubah
Mabuk doa, tetapi tangan hampa
Mendapat, tetapi tidak menemukan
Diberitahu, tetapi tidak mendengar
Berilmu, tetapi tidak mengerti
Melihat, tetapi tidak nampak
Berjalan, tetapi tidak sampai
Berharap, tetapi tidak tahu apa yang dikerjakan
Menghakimi, tetapi tidak memberi keadilan.
(sumber : Zikir Membangkitkan Kekuatan Bashirah, hal 14)

Terhenyak
Terkejut
Tertampar
Tersentak
Remuk
Hancur
Jatuh bertaburan memenuhi semesta alam

Begitulah yang kurasakan saat membaca rangkaian kalimat tersebut. Sungguh!
Lebih terhambur lagi diriku karena baru saja beberapa hari yang lalu mengaktifkan (lagi) chatting online yang sesungguhnya sudah kuputuskan sejak beberapa bulan lalu tak kan kujamah lagi. Namun dengan alasan silaturahmi selama Idul Fitri, akhirnya kuaktifkan meskipun saat itu sudah kubuat komitmen untuk tidak terbawa diri dalam riak rasa yang makin dalam.

Sayang, pikiran tetaplah kebebasan yang tak mampu kukekang. Rasa juga tetaplah keindahan yang harus kuperjuangkan. Apalagi hati, ia tetap akan menuntut diri untuk dituntaskan. Meski dalam proses dan cara yang kadang tak mampu kuperkirakan dan kuanalisa sedikitpun. Pikiran, rasa, dan hati itu akhirnya sempat menjadi liar hingga mulai mengganggu keheningan untuk memaknai kehidupan. Aku kalah, telak!

Malu? Jelas!
Bila masih ada rasa malu, maka itu berarti kehidupan kita di kemudian hari akan makin indah dan makin bermakna. Diri kita akan makin berharga, bukan oleh penghargaan orang lain, namun oleh diri kita sendiri!

Kembali ke kutipan dari buku tadi, satupun kalimat tersebut tak mampu kumaknai dalam beberapa hari terakhir ini. Keheningan yang mampu kuciptakan sepanjang Ramadhan, ternyata tak mampu kupertahankan persis sehari setelah Idul Fitri. Jelaslah, tak akan mampu kumaknai dengan cara yang benar karena bukankah dalam kutipan itu menyebutkan ”Sibuk, tapi tidak mendapat apa-apa”.

sumber : rinduku.wordpress.com
Perjuangan dan ibadah sebulan, sepertinya belumlah cukup bagiku untuk mampu menaklukkan diri. Persis seperti yang sering kukatakan selama ini ”Butuh energi yang sangat besar untuk menaklukkan diri sendiri”. Godaan demi godaan, baik itu berupa pikiran, tuturan, maupun hati selalu datang bergantian dalam kehidupan. Bisa oleh diri kita sendiri, namun sering dipicu dan dipacu oleh orang di sekeliling. Kenikmatan demi kenikmatan memang sungguh indah, sebulan diriku menahan banyak hal utamanya di waktu siang, alhasil di Idul Fitri semuanya kembali ke titik nol. Nafsu itu makin menggila, cinta dunia, cinta keindahan berwujud wanita, cinta tuturan, hingga posting banyak orang di banyak media sosial. Salahkah? Tak akan kujawab, karena cukuplah kalimat selanjutnya dalam buku itu menamparku : ”Beribadah, tetapi tidak berubah”.

Ulasan buku? Jelas ini bukan resensi, yang kututurkan hanyalah apa yang kurasakan malam ini. Tetesan rasa dalam gelisah yang kemudian bermetamorfosis menjadi tetesan airmata yang bersaksi atas banyak rasa segenap jiwa.

Hening, hanya heninglah yang kubutuhkan untuk melanjutkan kehidupan penuh makna ini. Tak kan mampu kucerna banyak hal di dunia ini bila diriku masih sibuk dengan banyak urusan kehidupan tanpa keheningan. Keheningan yang selalu bermakna sangat luar biasa, keheningan yang sangat berarti, hingga di dalam buku ”Syair Keranjang Pempang” keheningan ini kutulis menjadi satu judul cerita ”Heninglah, maka akan kau temukan esensi diri”.

Sedikit kukutip apa yang kutuliskan dalam buku itu di halaman 565 :

”Keheningan itu telah bersalut dalam ketidakteraturan emosi diri, selimut tipis itu kini tak cukup lagi menghangatkannya, bahkan tubuh kurus itu mulai tak kuat mehan dinginnya malam penuh bintang. Purnama itu tak mampu menuntaskan pikirannya, kunang-kunang yang menari riang di pucuk pisang itu baginya hanyalah kerlip keindahan yang tak mampu dinikmatinya samasekali, bahkan kepak kalong di pohon kapuk persis di sudut halaman itu yang mulai asyik berpesta pora menikmati bunganya yang mulai mekar, masih tetap tak mampu menggugah rasanya.
Ia yang selama ini menjadi penikmat alam, bersenandung penuh kegembiraan, menerjemahkan dengan filosofi kehidupan, nyaris malam ini tak kutemukan. Entah apa yang dipikirkannya, hanya  terawanglah yang kulihat membayang.
..................
..................
.................
Secarik kertas kulihat terhampar di atas meja panjang di pinggir pintu tengah rumah, sederet kalimat telah dituliskannya malam ini. Puisi itu menjawab keingintahuanku :

Suatu ketika Aku pernah bermimpi
Mimpi indah tentang kehidupan
Mimpi bahagia tentang persahabatan
Mimpi menyenangkan melihat senyuman

Banyak keinginan untuk menggoreskan kehidupan
Mencercah semangat mencipta harapan
Menggali kehidupan dalam kebersamaan
Memberi dan berbagi bersama
Mencerahkan dalam temaram kehidupan

Namun...
Kehidupan memang harus diperjuangkan
Kebersamaan tetap harus digairahkan
Keinginan membangkitkan diri tetaplah impian

Meski kegagalan sering kudapatkan
Meski kadang harus berhadapan dengan batu karang
Meski kadang harus bertemu dengan banyak teori kehidupan
Meski kadang harus menyingkirkan ego dan perasaan
Meski kadang sulit memaknai perbedaan

Hening....
Hanya inilah yang harus kulakukan
Hening dalam kehidupan
Hening dalam perasaan
Hening dalam kesendirian
ESENSI DIRI HANYA KUDAPATKAN DALAM HENING ! ”

----------
Keheningan memang kubutuhkan saat ini karena banyak hal yang harus kulakukan dalam kehidupan ini. ”Syair Keranjang Pempang” mampu kutuntaskan dalam hening, "Tapak Jiwa" juga kutuliskan dalam hening, dan kini ”Biduk Senja” juga nyaris kutuntaskan dalam hening.

Banyak buku yang kubaca juga mampu kumaknai dalam hening. Hening yang selama ini sering kita kondisikan di tengah malam buta, meskipun sesungguhnya bukan itu makna hening yang sesungguhnya kumaknai.

Bagiku :
Hening adalah tenangnya pikiran, rasa dan hati dalam memaknai kehidupan yang terhampar dan tersebar di muka bumi. Hening yang sesungguhnya berupa proses pengkondisian diri, tidak jangka pendek, namun jangka panjang. Hening yang akan membuat diri kita semua menjadi makin tajam dalam berpikir, merasakan, dan memaknai dengan hati yang benar. Banyak yang terhampar, kita hanya mampu memaknainya secara total dengan hening!

Pelan namun pasti, airmata itu kini menetes juga. 
Diriku memang butuh hening ini !

Rabu, 22 Agustus 2012

Saksi Ramadhan


Di Ramadhan ini Aku menjadi saksi
Atas tetesan airmata seorang Bapak untuk anaknya
Kasih sayangnya sepanjang hayat
Tak kan lekang meski wajah makin bergurat
Tetesan keringat penuh warna yang telah ia buat
Tak kan pernah ia sesali
Tetesan darah yang telah ia penuhi
Itulah wujud kasih sayangnya yang tiada tertuturkan
Tak kan lekang meski dunia terus menerjang
Hingga kehidupan akan dipenuhinya dengan kebahagiaan

Di Ramadhan ini Aku menjadi saksi
Atas airmata kehidupan seorang adik untuk sang abang
Tubuh yang dingin menjelang malam
Meski digoyang, iapun tetap tak meradang
Tetap hening
Tetap diam
Tetap tak bertutur
Hanya senyuman
Hanya tangan bersedikap
Ia telah bersholat menghadap Sang Maha Pemilik Nyawa
Sang Maut telah menjemputnya dengan penuh kebanggaan
Ia Pemuda soleh yang sangat dirindukan Tuhan
Tak kan pernah panjang usianya
Ialah kekasih tiada terhingga

Di Ramadhan ini Aku menjadi saksi
Atas airmata kebahagiaan bercampur duka tiada terhalang
Seorang sahabat telah menghadap Sang Maha Kuasa dengan penuh kebanggaan
Ashar itu begitu indah
Duduk bersimpuh ia dalam zikir yang dalam
Hingga tak didengarkannya lagi panggilan sang anak selepas mandi
Hingga tak dihiraukannya pelukan dan tangisan sang istri tercinta
Ia telah menghadap Sang Maha Pemilik Jiwa
Sore duapuluh tujuh Ramadhan
Puasa itu telah menghantarkannya
Puasa itu telah memenuhi doanya untuk selama-lamanya

Di Ramadhan ini Aku telah menjadi saksi
Atas orang tua yang bahagia melihat bijaknya sang alam memelihara keluarganya
Atas airmata tak terhingga mendengar banyak tuturan para bijaksana
Atas dada yang berbangga merasakan indahnya Ramadhan di penghujung usia
Ia terus berucap
Empat kali khatam sepanjang puasa
Cukuplah bukti kuatnya jiwa bersiap menghadap Sang Maha Pemilik Rasa

sumber : ygennet.or.id
Di Ramadhan ini Aku menjadi saksi
Atas banyak gejolak rasa seorang lelaki jelang lansia
Atas banyak tuturan bernurani
Atas banyak tetesan makna diri
Selembar sajadah sering menjadi penyejuk di tengah malam
Curahan hati sang lelaki hanyalah dimaknai Sang Maha Pemilik Hati
Gundah gulana itu memang belumlah tuntas
Resah gelisah itu memang belumlah tumpas
Hanya sedikit riak
Ia sangat menyadari
Inilah gejolak rasa lelaki jelang lansia

Di Ramadhan ini Aku menjadi saksi
Atas banyak pikiran
Atas banyak tuturan
Atas banyak hati
Atas banyak rasa
Bersalut dan bertaut
Berkulit dan mengeriput
Menetes dan mengalir

Tautan demi tautan itu akan terus melaju dan berpacu
Hanya pikiran, tuturan, hati dan rasa yang akan menjadi jangkar diri
Jangkar kehidupan agar kapal yang berlayar tak lupa untuk bersauh sejenak di tepi bumi

Minggu, 19 Agustus 2012

Ramadhan


Aku adalah kerinduan bagi insan yang mengamalkannya
Aku adalah kelimpahan bagi insan yang mengisinya
Aku adalah kehidupan bagi insan yang memaknainya
Dan Aku adalah jalan kenikmatan menuju keabadian di hadapan Sang Maha Pencipta

Tiga puluh hari diriku membuka diri
Tiga puluh hari diriku menghamparkan diri
Tiga puluh hari diriku menjaga perut dan mulutmu
Juga lidah, pikiran, apalagi hatimu

Bagi orang beriman, diriku adalah kekasih tiada bandingan
Bagi orang beriman, diriku adalah kehidupan penuh kenikmatan
Bagi orang beriman, diriku adalah alasan untuk menaklukkan sang nafsu perkasa
Dan bagi orang beriman, diriku adalah kemenangan di akhir cerita

Untuk menaklukkan airmata
Untuk menaklukkan syak wasangka
Untuk menaklukkan pikiran yang menggelora
Dan untuk menaklukkan liarnya hatimu yang sulit kau belenggu

Sayangnya....
Masih banyak darimu yang tak mengharapkan kehadiranku
Masih banyak darimu yang tak merindukan diriku
Masih banyak darimu yang berteriak riang saat diriku harus berpamitan
Demi sebuah kata kemenangan di akhir Ramadhan

Kemenangan yang sesungguhnya harus terus kau pertanyakan
Kemenangan yang sesungguhnya harus terus kau tulis beribu warna tinta
Kemenangan yang sesungguhnya masih harus kau perhitungkan
Karena kemenangan hakiki itu hanyalah dimiliki oleh mereka yang berjuang sepenuh hati

sumber : sidomi.com
Tetesan airmata itu kini sangat dekat
Tetesan airmata itu kini mulai tak terhindarkan
Tetesan airmata itu kini mulai tak terhapuskan
Ia akan terus mengalir mengiringi duka diri di jelang hari



Kemenangankah yang telah kau raih di akhir cerita?
Ataukah hanya lapar dan dahaga saja?
Jangan-jangan hanya kau kira dirimu telah menang

Karena hari-harimu sepanjang bulan tak pernah mampu menaklukkan diri
Karena hari-harimu sepanjang minggu hanya diisi taburan kata yang ambigu
Karena hari-harimu sepanjang badan hanya meratapi dunia yang tak mampu kau taklukkan?

Apapun isi perut, pikiran, juga hatimu
Aku tetap akan berlalu
Aku tetap akan pergi
Aku tetap akan melangkah mantap memenuhi takdirku

Takdir yang juga telah kau miliki saat dirimu sedang berhadapan dengan Sang Pemilik Nyawa
Takdir yang juga telah kau ijab kabulkan dengan Sang Maha Pencipta saat itu

Jauh sebelum dirimu hadir ke dunia ini
Jauh sebelum tangisanmu memenuhi ruang waktu dalam tangis rindu sang ibu
Jauh sebelum hawa nafsumu memenuhi seluruh sendi hidupmu hingga kau mulai mengabaikan perjanjianmu

Aku tetap akan pergi
Hanya ujung waktu yang akan menghentikanku
Langkahku tetap akan memenuhi waktu yang ada
Jauh lebih panjang dari waktu yang kau miliki
Jauh lebih bermakna dari waktu yang telah diberikan padamu

Karena aku adalah Ramadhan, ibu dari semua bulan
Tempatmu menunjukkan bakti pada Sang Maha Pencipta

Kamis, 05 Juli 2012

Kenikmatan Hidup


Sudah lebih dari seminggu ini, hampir tiap hari kuikuti Bang Rudi ke lapangan golf. Berangkat setiap selepas sholat zhuhur, dan pulang menjelang maghrib. Tak ada sesuatu yang baru, namun kerinduanku pada kenyamanan berbaring di rerumputan yang hijau dan rapi itu, telah membuatku benar-benar merasa seperti tidur beralaskan permadani dari Afganistan dan beratapkan langit yang penuh bintang. Tiada keindahan yang dirasakan, selain indahnya alam yang menaungi pikiran, menyelimuti hati, dan membalutnya dalam dekapan yang penuh kehangatan.

Pantai Pengempangan, skrg pantai Nyiur Melambai
(sumber: endabangka.wordpress.com)
Hampir setengah bulan sudah meninggalkan kampong, hampir setengah bulan sudah tidur di lantai dan hanya beralaskan tikar purun berwarna hijau bercorak garis-garis merah, hampir setengah bulan sudah melihat luasnya dunia, dan hampir setengah bulan sudah selalu menemukan keajaiban demi keajaiban terhampar di depan mata; Pantai Pengempangan dan para pengangkat perahu yang siap menerima imbalan apa saja dari sang nelayan meskipun hanya seekor ikan buto cine, Pelataran Samak dengan rumah Kawilasi di puncaknya laksana istana raja diraja di tengah kemiskinan dan kemelaratan masyarakat di sekitarnya, dan Padang Golf berhamparkan rumput seluas mata memandang berhiaskan pinggir laut dengan angin timur yang sepoi-sepoi. Saat karunia Sang Maha Pencipta mengalir tiada pernah berhenti, saat itulah kenikmatan demi kenikmatan menyertai setiap mahkluk yang dikehendakiNya. Ia Maha Rahman dan Maha Rahim; Akan dikasihinya setiap makhluk yang telah diciptakanNya dengan berbagai kenikmatan yang ada di muka bumi, namun hanya makhluk ciptaan yang dikasihiNya yang akan mendapatkan limpahan rahmat di kehidupan akhirat kelak.

*****

Fath, yuk kita berangkat,” Idil berteriak membuyarkan lamunanku.

Eit Dil, tunggu dulu, aku pamit dulu pada Umak".

“Mak, aku ke lapangan golf lagi ya?”

Nah, kau mau berangkat lagi ya? Jangan ya nak, bantu umak mulai hari ini,” datar jawabannya, nyaris tanpa intonasi samasekali. Jangankan melihatku, menolehpun ia tidak.

 Matanya hanya melihat sebentar ke arah  tumpukan kayu pelawan· yang mulai terbakar di dapur tanah yang baru di buat bapak kemaren; sebuah dapur sederhana berbentuk segiempat panjang yang lebarnya tak lebih dari limapuluh sentimeter, panjang kurang dari satu meter, dan tingginya hanya sekitar tigapuluh sentimeter pula. Empat keping papan yang sudah lusuh dan setengah rusak karena digigit rayap menjadi bingkai yang membatasinya dengan tanah liat yang mengisi dalamnya. Dua buah batu gunung sebesar pahaku diletakkan di kedua sisinya, dan dua buah besi hitam selebar lima sentimeter menghubungkan kedua batu. Sebuah dandang· hitam tampak mulai mendidih karena tutupnya mulai terbuka sedikit demi sedikit.

Oh, mak mulai masak ketan lagi ya? Untuk buat pulut panggang lagi?”.

Iya... mulai hari ini kita harus mulai jualan jajak lagi untuk menyambung hidup. Duit gaji dari bapakmu sudah habis hari ini, tinggal cukup untuk beli ketan, kacang hijau, kelapa, dan sedikit kacang tanah. Jadi memang mulai hari ini kita harus mulai jualan lagi”.

Cepatlah sini bantu umak”.

Ya mak, tapi aku sampaikan dulu ke Idil kalau mulai hari ini aku tak ke lapangan golf lagi”.

Lima menit kemudian, masih kuingat betapa kecewanya Idil. Sulit menjelaskan padanya bahwa kehidupanku mulai hari ini kembali harus bergayut dan bertempur melawan kemiskinan. Kebodohan harap diusir, kemandirian harap dihadirkan, dan kejayaan harap dihadapan.

*****
“Sreeekkkk.... sreeekkkkk.... sreeeee......” suara khas sepeda terdengar dengan merdunya.

“Mak... bapak datang”.

Sangat khas memang suara rantai sepeda itu, karena sudah lebih dari setahun rantainya tak pernah diganti. Hampir setiap hari harus diminyaki oleh Bapak, agar rantainya tidak kaku dan agar tidak mudah lepas dari freewellnya.

Serangkaian siulan indah lalu muncul dengan sendirinya, itulah siulan bapak yang sangat memikat hati. Pelan namun pasti, segera dapat kueja lagu yang sedang ia dendangkan dengan siulannya, “Sendiri.... kini aku sendiri lagi... hanya bertemankan mimpi-mimpi... dan menangis... kututup.... pintu hatiku untuk cinta...”

Entah sejak kapan bapak menyanyikan lagu ini dengan siulan, namun kami semua sangat faham bila siulan terdengar, itu pertanda hatinya sedang bahagia. Hampir semua anak-anaknya tahu persis lagu-lagu favorit yang sering disiulkannya : Sepanjang Jalan Kenangan, Pertemuan, Teluk Bayur, Patah Hati, Sebiduk di Sungai Musi, dan tentu saja lagu yang tadi baru dinyanyikannya yang tak pernah kutahu apa judulnya. Ia bahkan cukup menguasai lagu-lagu barat dan sering pula menyiulkannya seperti My Way, Dont Forget to Remember, dan Sailing.

Beberapa diantara lagu itu adalah lagu yang paling sering didengarnya dari biola yang sedang digesek oleh kakekku di zaman tahun empatpuluhan, dan selalu bapak siulkan hingga saat ini terutama sejak kakek meninggal saat usianya baru menginjak tigabelas tahun. Siulan yang selalu diperdengarkan Bapak kala rindu pada Kakek, mengganti kesedihan dan kenestapaan dengan kebahagiaan dan penuh harapan!


· pelawan : sejenis kayu bakar (lihat kamus)
· dandang : panci besar utk merebus air, ketupat dll