Matahari belumlah tersenyum, embun pagi masih menempel erat memeluk daun pisang, jari jemari laba-laba masih setia melantunkan lagu-lagu kehidupan, dan kunang-kunangpun terus bersenda gurau dalam kegelapan. Subuh belumlah menjelang, kepak sayap kalong tetap asyik bergemuruh pesta pora di pohon rambutan. Gedebuk buah kemang berdentam riang menghajar dedaunan kering, membangunkan insan yang asyik memeluk guling. Guling kapas yang cari, namun guling kaki yang ditemui. Kehangatan pagi yang diingini, dinginnya kulit menyenyakkan mimpi.
![]() |
| sumber: tutiklenje.blogspot.com |
"Brrrrrr.........dingin benar oi," gemeretuk gigi bersahutan, bergetar, bergoyang, dan bernyanyi menyambut pagi.
"Memang lebih dingin nak, semalam kan sempat hujan selepas tengah malam. Sekarang menjelang awal musim panas, hujan mulai berkurang, kondensasi meningkat, embun turun lebih pekat, hingga untuk cuci mukapun akan berlimpah".
"Wawwww, keren juga umak, pakai kata kondensasi. Hebat!" , tersenyum kubayangkan entah darimana beliau mendapatkan kata keramat itu. Kurasa masa ssat ia sekolah dulu di tahun limapuluh tahunan belumlah ada kata itu. Jangankan kondensasi, ramalan cuacapun masih sebatas tebakan berhadiah kala melihat bentuk awan dan arah angin saja. Tebakan yang lebih banyak tak tepat, karena hujan tetaplah rahasia sang Maha Pencipta. Manusia meramal, tuhanlah yang menentukan. Semakin tinggi ilmu, tentu harus semakin bijaksana dan memahami makna penciptaan diri.
"Benar-benar berat mak”.
"Ah, tak perlulah kau berpikir macam itu. Patok-patok hidupmu baru saja dimulai."
"Memang berat mak, tapi harus dilawan. Bukankah hampir tiga tahun selalu ada fajar yang indah seperti ini?" gumamku.
"Nah, mobil Kulin sudah lewat ke Lidun. Cepat sholat, lalu bawa barang bawaanmu ke dekat pagar depan. Biar Kulin tak lupa pesanan kita semalam".
"Baik mak".
Jarum panjang jam di tanganku barulah sedikit bergeser dua garis kecil dari angka duabelas,dan jarum pendeknya masih mantap di angka empat. Jam terbaik yang kumiliki saat ini, jam pertama yang telah diberikan Bapak hampir tiga tahun yang lalu sejak enampuluh empat kilometer lebih setiap harinya harus kutapak untuk meraih mimpi pertama kehidupan : tamat SMA degan penuh harapan!
"Kayuhanmu harus lebih cepat bila hampir terlambat masuk sekolah, " begitulah ucapan bapak saat ia memberikan jam tangan itu padaku.
Benarlah kiranya, sejak itu tak pernah perlu sedikitpun kekhawatiran itu timbul karena takut terlambat sekolah. Jam setengah lima lewat lima menit, selalu setiap hari jerit rantai sepeda mulai terdengar. Masih sangat pagi untuk terlambat sekolah, tapi tigapuluh dua kilometer lebih harus ditempuh paling cepat dua jam sepuluh menit.
Kurang dari lima belas menit, mobil Kulin sudah terdengar menderu dari ujung simpang Sabong. Jarak hampir tujuhratus meter dari tempatku berdiri, rumah yang selama belasan tahun menjadi tempat terbaik dalam kehidupan, canda gurau yang kian lama tinggal kenangan karena para penghuninya semakin bertebaran menjemput impian di banyak titian kehidupan. Deru itu kian mendekat, empatbelas tiang telepon tepatnya, namun suaranya sudah terdengar keras di keheningan pagi yang penuh selimut embun. Sesekali terdengar klaksonnya menyalak, bukan pertanda agar setiap orang yang ditemuinya menepi, namun itulah ajakan untuk ikut pergi ke Tanjongpandan, kota kabupaten yang bagi banyak orang di kampungku hanya sebuah nama, namun nyaris seumur hidupnya tak pernah menginjakkan kakinya.
"Ayo naik mak cik. Oh, kau Fath, nak ke Tanjongpandan juak?" tanya sang sopir.
"Ya bang, mau melihat negeri seberang. Belajar mencari hidup”.
”Mengapa tak ke Batam saja, kan banyak orang Belitong mencari kerja ke Batam?”
"Ndaklah bang. Kalau mungkin mau bekerja sambil sekolah”.
"Oh, mau kuliah rupanya. Kuliah dimana?"
"Belum tahu bang, yang penting bisa melihat negeri seberang dulu. Selama ini baru kulihat Belitong, tak lengkaplah kalau hanya mendengar namanya saja negeri lain. Kalau ada biaya baru kuliah, baru itupun belum tentu bang," diam sesaat, berat tarikan nafas ini!
"Jadi mau ke Jakarta, Bandung atau Jogja?"
"Tidaklah, tempat itu hanya untuk orang Staf Timah dan yang berduit saja. Aku mau melihat negeri-negeri di Sumatera, mungkin Palembang atau Padang saja. Daerahnya masih luas, bumi masih terbentang, semoga rezekipun masih membumbung".
Entah sejak kapan orang Belitong lebih kenal dan lebih yakin menyekolahkan anak-anaknya ke Jakarta, Bandung, atau Jogja. Namun mereka semua selalu bangga bila ada diantara anak-anaknya yang kuliah di salah satu kota itu. Kualitas, mungkin begitu alasannya, pendidikan di Jawa memang jauh lebih di depan dibandingkan di luar Jawa. Namun hal itu tak selalu benar, juga tak selalu salah. Namun sedikit yang kutahu, banyak juga orang di kampungku yang gagal meski sudah ke Jawa. Kegagalan demi kegagalan sering menghantam perjalanannya, bukan ijazah yang dibawa, namun anaklah yang kadang pulang bermuram durja. Gagal di tengah jalan, predikat mahasiwa abadi banyak yang menyandangnya hingga kini.
"Aku tak mau merantau ke Jawa, bukan karena takut pulang bermurah durja, namun tak ingin bila duka menghantam dan ceritanya sampai ke telinga keluarga," jelasku saat Yayan bertanya mengapa diriku tak ke Jawa saja bersama dengannya tiga hari lalu sebelum perpisahan itu.
"Ayo, lanjut. Singgah sebentar di rumah Kik Canan. Anaknya mau pulang ke Tanjongpandan," lelaki sipit yang tadi duduk di pinggir pintu berteriak pada sang sopir.
Tak pernah kuingat siapa nama sang kernet ini, tapi yang kuingat ia adalah lelaki kecil bermata sipit, berkulit putih dan dari ras Tionghoa. Hidupnya selalu cerita, meski kartu penduduk Indonesia kurasa ia tak punya meski lahir di kampong penuh kebun sayur. Tak pernah ia mau dikatakan bukan orang Indonesia, meski ia berdarah Tionghoa. Cina kebun, Cina Singkek, begitulah orang-orang pribumi sering menyebutnya. Panggilan yang kadang bagi banyak orang tidak mulia, kurang tata krama, jauh dari budaya lokal yang arif dan bijaksana. Namun tetap saja ucapan itu melekat hingga waktu tak terencana, turun temurun laskana tuturan lidah tiada bertulang. Kemuliaan yang pada akhirnya hanya wacana dari gambaran otak manusia yang kurang memahami makna, bahwa kemuliaan itu selalu milik Sang Pencipta, manusialah salah satu gambaran ciptaan paling sempurna, meski ia lahir dari seorang Tionghoa.
------bersambung...............
------bersambung...............

Tidak ada komentar:
Posting Komentar