Ada kebanggaan dan salut yang sangat luar biasa saat diri ini menerima sebuah buku darimu, buku yang sejak awal kuyakin akan dapat diselesaikan meski dengan banyak pengorbanan di tengah banyak siklus kehidupan yang telah kau jalani.
Dua tahun yang lalu, secara langsung kudengar rencanamu yang telah mulai menuliskan sebuah buku kehidupan. Semula tak dapat kubayangkan bagaimana isi dan tuturan di dalamnya. Hanya sebuah bocoran yang tanpa sengaja saat itu meluncur darimu, sebuah buku kehidupan yang mengangkat kearifan lokal di kampung halamanmu Belitong, tempat yang sangat kau banggakan sejak dulu.
Sangat kudukung hal ini, karena memang keseharianmu selalu penuh emosi yang meledak-ledak bila bicara kearifan lokal. Pengamatan dan renunganmu pada banyak kejadian keseharian memang sering berbeda dengan apa yang banyak kami tangkap. Motivasimu nyaris seperti tak pernah padam, bahkan sempat kuingkari bahwa dirimu laksana sinar yang tak pernah meredup. Nyaris tak pernah tampak rasa duka.
Beberapa penggalan cerita pernah secara sengaja kubaca di notes facebookmu, sempat tak mampu kupercayai bila itu tulisan-tulisanmu. Namun ternyata memang itulah tulisanmu, tulisan kehidupan orisinil yang memang lahir dan dilahirkan secara sengaja dengan menggali banyak pengalaman dalam perjalanan kehidupan selama dirimu hidup di Belitong.
Cerita yang kau tuturkan kala itu, selalu mengundang imajinasi kami untuk merasa seolah berada di antara mereka yang sedang kau tuturkan, benar-benar tokoh kehidupan yang hidup diantara kami. Entah kekuatan apa yang membuatmu menjadi menuliskannya dengan karakter yang begitu kuat, sulit kujawab. Hingga muncullah perkiraanku bahwa dirimu menulis di tengah keheningan malam, dengan tubuh yang penuh wudhu, bersih dari nafsu duniawi. Tuturan yang semakin hari semakin kuyakin bahwa memang beginilah harusnya kita hidup di dunia, menjadi manusia sesungguhnya dengan banyak kearifan yang kita tebarkan.
Secara pribadi aku sangat salut dengan upaya-upayamu, benar-benar salut. Meski sebenarnya ada kekhawatiran yang sangat mendalam saat Bapakmu mengalami sakit dan kemudian memenuhi panggilan Sang Maha Pemilik, dirimu seperti orang yang sangat berduka. Benar-benar duka yang sangat dalam.
Sangat kuingat kala itu dirimu lebih banyak berdiam diri, hening, nyaris tanpa bunyi. Kekhawatiranku ternyata juga dirasakan oleh sebagian besar dari kami, hingga beberapa sahabat memintaku untuk datang secara khusus menghiburmu. Namun aku tak pernah memenuhi apa yang diinginkan mereka, bukan karena rasa sungkan, namun lebih karena keyakinan bahwa dirimu pasti mampu melewatinya dengan lebih baik.
Ternyata dugaanku benar, selepas 100 hari meninggalnya Bapakmu, tulisan Syair Keranjang Pempang kembali kau lanjutkan. Bahkan makin dalam dan makin tajam saja. Memang ada sejumlah pertanyaan yang ingin kutanyakan padamu bagaimana mengatasi dan mengisi rasa duka yang mendalam itu, dan kemudian membalikkannya menjadi sebuah kekuatan yang sangat besar hingga buku ini mampu kau selesaikan. Namun kembali pertanyaan itu tak kutanyakan padamu, dan berharap akan kutemukan dalam bukumu.

Alhamdulillah, beberapa hari yang lalu, buku ini benar-benar memenuhi kodratnya; Syair Keranjang Pempang telah menjadi salah satu koleksi utamaku di lemari ini. Ada kebanggaan yang sangat luar biasa, sulit diucapkan dengan kata-kata.
Alhamdulillah pula, beberapa pertanyaanku saat dukamu sedang mendalam kala itu juga menemukan jawabannya. Sebuah bagian dari buku Syair Keranjang Pempang yang berjudul "Heninglah, maka akan kau temukan esensi diri" ternyata adalah jawaban yang sangat luar biasa atas keheningan yang telah kau alami selama Bapakmu sakit hingga seratus hari beliau meninggal. Keheningan yang tentu saja sangat berarti bagimu, juga bagi kami yang telah membacanya.
Selamat Kando, telah kau tuturkan indahnya kehidupan ini. kearifan-kearifan lokal itu memang harus dituturkan untuk perenungan, penghibur, dan penyemangat diri.
Semoga Syair Keranjang Pempang terus memenuhi kodratnya sebagaimana yang telah kau sampaikan padaku. Sukses!!
Dindo,
JMR
Selamat Kando, telah kau tuturkan indahnya kehidupan ini. kearifan-kearifan lokal itu memang harus dituturkan untuk perenungan, penghibur, dan penyemangat diri.
BalasHapusSemoga Syair Keranjang Pempang terus memenuhi kodratnya sebagaimana yang telah kau sampaikan padaku. Sukses!!
Tks Dindo, dirimu telah menjadi salah satu bukti sejarah tentang Syair Keranjang Pempang, sejak awal penulisannya hingga kini jadi buku yang sudah dimilikimu. Tks utk semua doa dan dukungannya. Tuturanmu juga sangat indah setelah kutuliskan jadi rangkaian kata di blog ini
Hapus