Jumat, 18 Mei 2012

Transformasi Judul dan cover

Pagi tadi sesungguhnya sangat indah, bangun tidurku telah dihadirkan sebias pelangi indah di belahan bumi barat. Meski goresannya tak lengkap, namun langit cerah di sekelilingnya telah memancingku untuk terus berimajinasi menggoreskan seperangkat tuturan dalam blog sederhana yang sekarang sudah mulai menjadi menu keseharian bagi beberapa orang. Mereka mulai rutin mengunjunginya, dan untuk merekalah kutuliskan tuturan ini malam ini.

Ingin kuceritakan bahwa di awal penulisan Syair Keranjang Pempang, ada sebuah kekhawatiran saat tuturan yang kuangkat berkisah tentang banyak kearifan di negeri Belitong. Sesungguhnya bukan tuturannya yang kukhawatirkan, juga bukan orang-orang di dalamnya yang sebagian besar (masih) menggunakan nama aslinya. Namun kekhawatiranku adalah karena ada nama besar Belitong di dalamnya.

Belitong, tidak dipungkiri dalam dua sampai tiga tahun terakhir ini menjadi sangat terkenal oleh sebuah novel yang sangat fenomenal. Belitong yang semula hanyalah sebuah pulau kecil yang nyaris tak dikenal samasekali oleh banyak orang di Indonesia apalagi di luar negeri, akhirnya mulai mendunia. Banyak orang bertanya padaku, banyak orang berencana datang, dan makin banyak orang mengagumi keindahannya. 

Saat kukatakan pada seorang teman di Sragen di akhir tahun 2009 lalu bahwa diriku mulai menulis buku yang rencananya berjudul "Syair Keranjang Pempang" yang mengangkat berbagai kearifan lokal di negeri Belitong, ia menyatakan kegembiraannya. Jarak itu menjadi begitu dekat saat ia mulai menjadi penikmat cerita-ceritaku saat itu, meski sering ia harus sabar menunggu hingga tengah malam (karena sering cerita kuposting jelang tengah malam sebelum kulanjutkan tulisanku). 

Cerita akhirnya semakin banyak, hingga nyaris 500 halaman A4 kuselesaikan hingga Mei 2010, saat dimana kami dipertemukan Tuhan di bumi Belitong. Tahap finishing kala itu, namun ternyata harus tertunda karena sebaik-baik Perencana hanya Sang Maha Perencana.

Almarhum Bapakku kala itu bertanya tentang rencana judulnya. Kujawab rencananya  "Syair Keranjang Pempang" dan ia menyetujuinya. Hanya saat kukatakan bahwa di sampul depannya akan ada tulisan "Sebuah novel berlatarbelakang kearifan lokal di negeri Belitong" wajahnya sedikit mengernyit. Jelas ada kekhawatiran bila suatu saat buku ini diterbitkan dan dibaca khalayak ramai seolah "aji mumpung".

Saat kujelaskan padanya bahwa diriku bangga lahir sebagai "urang Belitong" dengan segala kearifan kehidupan yang kutemui selama perjalanan hidupku di Belitong, barulah ia memahaminya. Beliau memang sangat khawatir bila ada wajah-wajah dan cibiran-cibiran atas apa yang telah kutuliskan.

Sahabatku dari Sragen juga mendukungku, iapun mengatakan tak usah takut tentang apa yang akan terjadi atas buku yang nanti akan diterbitkan. Tetaplah jalan, tetaplah tuliskan, tetaplah tuturkan. Bukankah buku ini lahir karena bakti diri pada bumi Belitong yang telah melahirkan kita?

Alhasil, butuh satu setengah tahun bagi diriku untuk menguatkan diri menyelesaikan buku ini dan menerbitkannya di nulisbuku. Tak mudah memang, karena dalam perjalanannya sempat ingin kuganti namanya menjadi "Syair Keranjang Hati", lalu "Nyanyian Keranjang", atau "Syair Kehidupan"

Namun, tetap panggilannya harus "Syair Keranjang Pempang".
Banyak kebanggaan lahir di dalamnya. Kebanggaan sebagai orang Belitong, kebanggaan karena keranjang pempang bermakna sebuah perjuangan mencapai tujuan dengan segala rintangan dan tetesan keringat lengkap dengan airmata. 

Wujud syukur kupanjatkan, akhirnya nama itu tak berubah samasekali. 
"Syair Keranjang Pempang --sebuah novel berlatarbelakang kearifan lokal negeri Belitong" jauh dari dugaan ataupun sangkaan mengaitkannya dengan popularitas Belitong. Juga jauh dari keinginan untuk tampil mendampingi beberapa Penulis terkenal dari negeri Belitong (Andrea Hirata, Ian Sancin, Fithrorozi, dan Roxana). 

Syair Keranjang Pempang sekarang sudah memenuhi kodratnya. Ia telah menjadi sebuah buku sejarah kehidupan bagi istri, anak-anak, dan keluargaku. Syair Keranjang Pempang yang telah menjadi besar karena mereka semua telah memilikinya. Ia menjadi bukti bahwa di dunia ini pernah hidup seorang lelaki kampung asal Batu Penyu yang dalam kesehariannya tak pernah lepas dari keranjang pempang.

Keranjang pempang yang selalu menjadi nyawa kehidupan, tidak saja bagiku, namun bagi banyak orang di Belitong. 
Selamat berjuang wahai Syair Keranjang Pempang, teruslah menebarkan keranjang-keranjang kearifanmu ke seluruh penghuni negeri. Semoga!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar