Beberapa hari yang lalu, tepatnya di awal tahun ini seorang kawan yang sudah beberapa tahun menjadi sahabat bertanya padaku, "Apa tak ingin dirimu merubah nasib, jangan hanya jadi penabuh gendang dalam kapal kehidupan ini., Kau banyak tahu tentang kapal ini, tahu riwayat perjalanan dan kemana arah kapal akan dituju, dan kau juga jadi saksi sejarah atas banyak kapal lain yang kini menjadi pelabuhan hati mereka yang selama ini berteriak riuh rendah di sini".
Senyum, lalu kutepuk ia dan kukatakan, "Maaf kawan, belum bisa kujawab saat ini. Terlalu berat untukku, apalagi sekarang aku sedang hening memaknai perjalanan yang sudah kujalani".
Ia mengangguk, kemudian berkata,"Kutunggu jawabanmu karena akupun belum mampu menjawabnya saat ditanya hal yang sama oleh guruku setahun yang lalu".
****
Sejak kecil, kita semua tentu pernah ditanya ingin menjadi apa setelah dewasa. Ada banyak jawaban kita, mulai dari dokter, insinyur, guru, jaksa, pejabat, bahkan hingga presiden. Beberapa kali, belasan kali, bahkan hingga puluhan kali cita-cita itu berubah. Pada akhirnya, pelabuhan kehidupan menjadi sering berbeda dengan kapal yang sudah dilayarkan.
Alur laut, gelombang, angin, gumpalan awan, hingga banyak keindahan dan kekejaman perjalanan kehidupan kadang ditemui. Sering hal ini merubah arah kapal yang sejak awal telah kita tetapkan arah dan koordinatnya.
Namun tetap ada saja mereka yang sejak awal telah berlayar dengan kapal yang benar, arah yang tepat, nakhoda yang hebat, dan laut yang benar. Akan halnya gelombang, angin, kabut, hingga gumpalan awan hanyalah pemanis perjalanan. Tidak lebih dari itu!
Itulah sebabnya banyak dari mereka yang kemudian setelah memasuki dunia kerja seringkali tak mampu membetahkan diri untuk menekuni pekerjaan yang sedang mereka kerjakan. Alhasil, mereka hanya mampu bertahan di satu tempat bekerja untuk beberapa saat saja, lalu pergi menjauhi kapal; pindah ke rakit, biduk, tongkang, phinisi, atau malah ke kapal yang lebih besar dan lebih mewah.
Salahkah ini? Jelas tidak, meski banyak argumen yang kadang membantahnya. Selalu ada banyak alasan mereka melakukannya, karena ingin menggapai impian hiduplah menjadi salah satu alasan yang paling tepat. Begitu menurut banyak orang, bahkan ada yang mengatakan, "Kami loyal pada profesi, bukan pada kapal kehidupan".
Lantas apa kaitannya hal ini dengan pertanyaan kawan tadi? Tak mudah memang menjawabnya karena profesiku bukanlah sebagai kelasi kapal, penjaga mesin, anak buah kapal, apalagi sang nakhoda. Diriku hanyalah sang penabuh gendang; seorang Trainer. Orang yang kutahu dari sebuah kitab suci para Trainer sebagai orang yang paling bertanggungjawab pada KSA - Knowledge, Skill, dan Attitude : mereka semua yang ada di kapal kehidupan harus punya pengetahuan yang hebat, mampu menerapkannya dengan tepat, dan memiliki moral yang baik. Hupfs!
Tentu sebagai penabuh gendang, Trainer harus terus menjaga akselerasi pukulan, irama, dan frekwensi, juga amplitudo pukulan. Meski kadang ia iri melihat banyaknya para abk yang sudah sukses, baik di kapal ini maupun di kapal baru. Namun Trainer tetaplah seseorang yang dipercaya penuh menjadi penabuh gendang. Karena tabuhannyalah maka banyak dari mereka yang akhirnya menjalani kapal kehidupan. Meski hanya serba sedikit, namun irama tabuhannya harus menyenangkan dan menenangkan.
Ikhlas pada akhirnya Inilah yang menjadi tantangannya. Meski kadang tak tuntas karena saat tabuhan baru dimulai atau baru dipukul beberapa kali, mereka telah memutuskan pindah kapal atau memutuskan tidak akan berlayar.
Ikhlas juga saat melihat banyak mereka sudah sukses, jauh lebih sukses dari kita yang hanya menjadi penabuh gendang.
Mengutip apa yang dikatakan ibu Seni, guruku saat bersekolah di sebuah SD di Negeri Laskar Pelangi puluhan tahun lalu, "Silahkan kalian semua menjadi apapun yang kalian inginkan. Lebih hebat dariku, itu harus! Ilmu Bumi jangan hanya jadi ilmu hafalan atau di peta buta saja, tapi kalian semua harus menginjakkan kaki ke tempat itu. Diriku cukup mendengar ceritamu saja, itu sudah sangat membahagiakan di jelang akhir usiaku".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar